Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara – Jose Mourinho merasakan kemenangan pertamanya dalam derby London Utara ketika Tottenham Hotspur bangkit dari ketinggalan untuk mengalahkan Arsenal. Mereka bermain di Stadion Tottenham Hotspur London dalam lanjutan laga Premier League yang ke-35. Sundulan Toby Alderweireld hanya 9 menit sebelum laga berakhir mengklaim tiga poin penting bagi Spurs untuk peluang bersaing memperebutkan salah satu jatah Liga Eropa.

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Mourinho tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika usai laga tersebut berkata seperti dilansir. Kami membuat para penggemar senang, kami bahagia karena kami masih dalam perjuangan untuk memenangkan posisi Liga Eropa. Hasil ini juga membuat Manajer adal Portugal itu tidak pernah kalah dalam pertandingan kandang melawan Arsenal selama karirnya di Liga Inggris.

Dari 10 laga yang pernah dijalani, Mourinho memenangkan laga enam kali dan seri empat kali. Tottenham sendiri sudah memenangkan 4 laga dan dua laga berakhir imbang. Tidak terkalahkan dalam enam pertandingan liga di kandang mereka secara berturut-turut melawan Arsenal.

Kemenangan ini juga untuk pertama kalinya sejak Januari 1968 dengan meraih sembilan pertandingan tidak kalah mekawan Arsenal. Sementara itu Mikel Arteta adalah manajer Arsenal pertama yang kehilangan derby London Utara pertamanya di Liga Premier sejak Bruce Rioch pada November 1995.

Kemenangan itu mengangkat Spurs menggeser Arsenal di klasemen Premier League pada posisi ke-8 dengan 52 poin. Arsenal turun ke posisi sembilan dengan 50 poin, terpaut dua poin dari rival mereka dengan tiga pertandingan tersisa. Mikel Arteta mengakui kekalahan Arsenal 1-2 dari Tottenham merupakan pukulan besar bagi The Gunners karena mereka hanya tinggal menyisakan 3 laga sisa.

Salah satu laga dari tiga yang harus dijalani Arsenal adalah melawan Liverpool yang dianggap laga terberat yang harus dijalani. Alexandre Lacazette telah memberikan Arsenal memimpin pada awal laga hanya 16 menit sejak kick off dengan mencetak gol untuk keunggulan 1-0. Tetapi sebuah blunder pemain belakang The Gunners, Sead Kolasinac yang memberikan back pass terlalu lemah kepada David Luiz, berhasil direbut Heung-Min Son.

Pemain Korea Selatan ini dengan mudah menembakan bola ke gawang Arsenal yang dikawal Martinez. Pierre-Emerick Aubameyang hampir saja mengguncang gawang Spurs untuk keunggulan Arsenal. Auba membuka peluang untuk mengembalikan keunggulan mereka sebelum akirnya Alderweireld menjadi penentu kemenangan.

Spurs menemukan cara ketika Mourinho memperpanjang rekor tak terkalahkan di Premier League melawan The Gunners menjadi 10 pertandingan. Kekalahan Arsenal ini membuat klub dengan julukan Gunners berada di urutan kesembilan dengan tiga pertandingan tersisa.

Terpaut empat poin dari Sheffield United yang berada di urutan ketujuh di tempat kualifikasi terakhir Eropa. Mereka masih bisa bersaing meraih target 6 besar. Arteta mengakui dengan jujur bahwa dia melihat apa yang dilakukan Mourinho berhasil memangkan derby ini lagi.

Menurut Arteta, ini dua gaya yang sangat berbeda. Mourinho mengelola taktik dengan sangat baik dengan memiliki tim yang bagus di lini belakangnya. Karakter sepakbolanya selalu menemukan cara untuk memenangkan sebuah laga. Tiga laga sisa Arsenal adalah melawan Liverpool (16 Juli), lawan Aston Villa (22 Juli) dan lawan Watford (26 Juli).

Sedangkan jadwal Tottenham yaitu lawan Newcastle United (16 Juli), lawan Leicester (19/7/20) dan lawan Crystal Palace (26 Juli). Mereka menghadapi lawan kuat yaitu Arsenal berhadapan dengan Liverpool dan Tottenham menghadapi Leicester. Pada 3 laga sisa tersebut, Jose Mourinho dan Tottenham Hotspur serta Mikel Arteta dan Arsenal harus tetap berjuang meraih posisi di zona Liga Eropa.

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang – Tak terasa perjalanan Liga Italia Serie A telah memasuki waktu-waktu krusial di penghujung musim. Ketatnya persaingan begitu terasa hingga pekan ke 31 menuju ke 32. Terlihat bahwa tim-tim peringkat 9 hingga 5 begitu ngotot memperebutkan tiket ke Europa League musim depan dan juga tim di zona degradasi yang perlahan bangkit keluar ke titik aman.

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Persaingan di empat besar pun sebenarnya juga masih terpantau baik meskipun tak semenarik tim-tim dibawahnya dan diprediksi tidak akan berubah komposisi timnya mulai dari Juventus, Lazio, Atalanta, dan Inter. Bisa dibilang Tiket Liga Championss sudah 60% tersegel oleh keempat nya mengingat rentang jarak tim peringkat 5 dan 4 yang berbeda 11 poin per pagi tadi.

Walhasil persaingan di empat besar lebih dikhususkan untuk merebut gelar juara liga yang hampir se-dasawarsa dikuasai oleh Si Nyonya Tua. Dan dilanjutan pekan ke 32 Serie A yang digelar kemarin malam dan dinihari tadi waktu Indonesia, Lazio, Atalanta, dan Juventus kembali mentas dengan kekuatan terbaiknya.

Di Stadion Olimpico Kota Roma, Tim ibukota besutan Simone Inzaghi ditantang oleh Sassuolo yang ada di peringkat 8 dan masih sangat berpeluang untuk menembus Zona Eropa. Ciro Immobile dan Luis Alberto dimainkan di laga ini, bahkan nama terakhir mencetak gol pembuka untuk keunggulan Lazio.

Namun di babak kedua, Sassuolo bangkit dan mencetak dua gol yang membalikkan keadaan oleh Raspadori dan Caputo di menit akhir pertandingan. Hasil ini menjadi kekalahan ketiga beruntun I Biancocelesti dan memperlebar jarak dengan si nyonya tua menjadi 7 poin. Hal yang cukup disayangkan sebenarnya mengingat sebelum pandemi Lazio digadang-gadang menjadi penantang terkuat Juventus dalam perburuan gelar ketika performa Inter yang kala itu naik turun.

Berselang beberapa jam kemudian, laga seru antara sang Capolista, Juventus menghadapi Tim peringkat tiga, Atalanta pun dihelat di Turin. Alih-alih mencetak gol cepat untuk memastikan jarak aman dengan Lazio, tim tuan rumah justru ketinggalan lebih dulu lewat sontekan Duvan Zapata menerima assist dari Papu Gomez.

Di babak pertama permainan bola memang lebih didominasi Atalanta sedangkan Juventus mencoba bemain lebih efektif. Di babak kedua, Juventus mulai lebih banyak menggencarkan serangan dan mencoba membuka pertahanan ketat atalanta lewat umpan silang dan tendangan spekulatif.

Usaha Juventus akhirnya berhasil dengan ditunjuknya penalti oleh wasit atas handsball Marten De Roon. Eksekusi Cr7 pun tak mampu dihadang Kiper Atalanta. Di menit ke 80, Atalanta kembali unggul lewat screamer ruslan malinovskiy yang merobek jala sczcesny untuk kali kedua.

Selepas momen tersebut, Juventus berusaha untuk bisa menyamakan kedudukan dan harapan Atalanta untuk menang 10 kali beruntun pun buyar seketika tatkala dengan pola yang sama si nyonya tua berhasil mendapatan penalti yang kedua, kali ini giliran Luis Muriel yang kedapatan handsball.

Ronaldo pun tak menyiakan kesempatan eksekusi di titik 12 pas. Hingga akhir laga skor berakhir 2-2. Dengan hasil ini Juventus tetap nyaman di singgasana dengan keunggulan 8 poin dari Lazio, sedangkan Atalanta gagal menyalip Lazio di peringakat kedua.

Di lain sisi Inter yang baru bermain pekan depan menghadapi Torino, masih berpeluang menyalip Atalanta jika memenangkan laga di Meazza selasa dinihari waktu Indonesia.

Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Juventus akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya – Kompetisi Serie A sempat terhenti selama kurang lebih tiga bulan akibat mengganasnya pandemi Covid-19 di Italia. Negeri pizza itu memang merupakan salah satu negara Eropa yang paling terdampak oieh pandemi Covid-19. Tercatat lebih dari 30 ribu orang di Italia meninggal akibat virus Corona (Covid-19). Sebelum kompetisi Serie A dihentikan sementara akibat adanya pandemi Covid-19 itu, pertandingan yang telah diselesaikan antara 25-26 partai. Artinya kompetisi Serie A menyisakan 12-13 partai lagi.

Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Setelah pandemi Covid-19 mereda dan situasi memasuki era new normal, kompetisi Serie A bergulir kembali mulai tanggal 22 Juni 2020. Tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya setiap pertandingan tidak boleh dihadiri oleh penonton. Sampai saat ini selama era new normal, Serie A telah menyelesaikan 5-6 partai sisa. Tim-tim besar seperti Juventus, Lazio, Atalanta, dan Inter Milan masih leading di papan atas klasemen.

Bahkan bagi Atalanta, lanjutan kompetisi Serie A dalam era new normal ini mungkin merupakan berkah tersendiri. Hal itu dikarenakan dalam enam pertandingan yang telah dimainkan, Atalanta meraih kemenangan seratus persen. Artinya dalam setiap laga Atalanta selalu menang.

Hebatnya lagi, beberapa tim yang dikalahkan oleh Atalanta adalah tim penghuni papan atas klasemen. Lazio yang berada di posisi dua klasemen di bawah Juventus dihajar Atalanta dengan skor 3-2. Korban berikutnya Napoli, disikat Atalanta dengan dua gol tanpa balas.

Tim lain yang dikalahkan oleh Atalanta adalah Sassuolo di partai perdana pasca pandemi Covid-19 pada tanggal 22 Juni 2020 dengan skor telak 4-1. Kemudian Udinese dengan skor 3-2, Cagliari dengan skor 1-0, dan terakhir Sampdoria dengan skor 2-0. Pertandingan selanjutnya akan sangat seru dan menarik. Mengingat Atalanta akan berhadapan dengan pemuncak klasemen sementara Si Nyonya Tua Juventus pada tanggal 12 Juli mendatang.

Atau sebaliknya Atalanta akan menelan kekalahan pertama pada sisa kompetisi pasca pandemi Covid-19 ? Big match yang sangat menarik untuk disaksikan. Secara head to head dengan Juventus di Serie A, Atalanta memang masih kalah jauh dari Juventus. Tercatat dari 109 kali bentrok dengan Juventus, Atalanta hanya menang 11 kali dan kalah 63, selebihnya seri.

Apakah Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Dalam lima pertemuan terakhir dengan Juventus pun, Atalanta masih berada di bawah Juventus. Atalanta hanya satu kali menang, dua kali seri, dan dua kali kalah. Akan tetapi Atalanta saat ini sedang berada dalam kepercayaan diri tinggi. Apalagi kalau bukan rekor kemenangan seratus persen dalam laga yang telah dimainkan di era new normal. Terlebih lagi, Atalanta tidak pernah kalah dalam sepuluh pertandingan terakhir di Serie A. Hanya satu kali seri dan sisanya semua dimenangkan Atalanta.

Sementara Juventus sebaliknya. Mental Juventus sedang agak down. Pasalnya, dalam pertandingan terakhir tanggal 8 Juli lalu Juventus dikalahkan AC Milan dengan skor cukup telak , 2-4. Walau pun begitu, tentu saja Si Nyonya Tua tak akan mudah untuk dikalahkan. Juventus akan melakukan perlawanan sengit terhadap Atalanta. Sebab kalau sampai kalah dari Atalanta, Juventus berpotensi kehilangan posisi pemuncak klasemen sementara sebab Lazio yang berada di posisi kedua siap mengkudeta.

Bagi Atalanta, meraih kemenangan dari Juventus merupakan hal yang sangat penting. Selain untuk menjaga trend positif kemenangan seratus persen, juga demi memelihara posisi di zona Liga Champions. Di samping itu pula, mengalahkan Juventus akan menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Atalanta.

Secara statistik gol, dari enam pertandingan terakhir yang telah dimainkan di Era New Normal, Atalanta telah mencetak sebanyak 15 (lima belas) gol dan hanya kemasukan 5 (lima) gol saja. Tak berbeda dengan Atalanta, Juventus pun sama dengan Atalanta telah mencetak sebanyak 15 (lima belas) gol tetapi kemasukan lebih banyak gol, yakni 6 (enam) gol.

Statistik Gol Antara Atalanta Dan Juventus Terlihat Cukup Berimbang

Perbedaannya hanyalah dalam jumlah pertandingan yang telah dimainkan dan jumlah kemenangan. Atalanta telah memainkan enam pertandingan, sedangkan Juventus baru memainkan lima pertandingan. Kemudian Atalanta selalu menang tak pernah kalah, sedangkan Juventus pernah mengalami satu kekalahan dalam pertandingan terakhir kala berhadapan dengan AC Milan.

Kedua tim berpeluang untuk saling mengalahkan. Bisa jadi Atalanta yang menang, tapi mungkin juga Juventus yang menang. Akan tetapi jika melihat statistik gol dan pertandingan, hasil seri mungkin cukup adil bagi kedua tim.

Performa Atalanta tahun ini memang cukup luar biasa. Selain tetap berada di posisi zona Liga Champions dalam klasemen sementara dan menorehkan kemenangan seratus persen dalam enam pertandingan Serie A pasca pandemi Covid-19, Atalanta juga mencatatkan diri menjadi satu-satunya tim dari Italia yang berhasil melaju ke Babak perempat final Liga Champions.

Selain Atalanta memang masih ada tim Italia lain, Juventus yang masih bertahan di 16 besar. Hanya saja kans Juventus untuk melaju ke babak perempat final tidak terlalu besar, mengingat pada leg pertama Juventus kalah 0-1 dari Lyon. Berarti jika ingin mendapatkan tiket ke babak perempat final seperti Atalanta, Juventus harus bisa mengalahkan Lyon pada tanggal 8 Agustus nanti (leg kedua tunda karena pandemi Covid-19) paling tidak dua gol tanpa balas.

Bukan tidak mungkin jika Atalanta bisa melangkah lebih jauh lagi di Liga Champions. Tidak hanya sampai perempat final, tapi juga semi final, final, bahkan tidak mustahil menjadi juara Liga Champions.

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal – Penikmat sepak bola nasional yang berbasis di Bandung dan Jawa Barat sempat dibuat bangga dua kali berturut-turut kala Liga Indonesia (Ligina) yang merupakan wajah baru dari kompetisi perserikatan digulirkan. Pada Ligina edisi pertama tahun 1994/95, Persib Bandung berhasil meraih gelar juara. Berselang setahun, giliran Peri Sandria cs yang membawa trofi Ligina edisi ke-II mendarat di Bandung bersama klub yang dibelanya, Mastrans Bandung Raya (MBR).

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Bagi Persib, gelar juara Ligina I 1994/95 bukanlah yang pertama. Mereka punya beberapa koleksi trofi Liga yang tersimpan di lemarinya yakni tahun 1937, 1959-1961, 1986, 1989-1990, dan 1993-1994. Pada musim 1994, kompetisi di Indonesia kemudian digabung antara Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia.

Sistemnya pun ikut berubah, termasuk pada musim itu jadi awal pintu masuk bagi para legiun asing. Namun menariknya, trofi Ligina I sukses digondol Maung Bandung tanpa legiun asing. Bukan karena manajemen Persib tak memfasilitasi atau melarang perekrutan pemain asing, melainkan karena kepercayaan sang pelatih, Indra Tohir, kepada putra daerah yang membuat Persib kemudian berjaya bersama produk lokalnya.

Pelatih yang akrab disapa Abah Tohir itu mengklaim bila timnya tak membutuhkan pemain asing mengingat betapa melimpahnya talenta lokal yang mereka miliki. Bahkan hal itu telah mereka manfaatkan di musim-musim sebelumnya. Persib sejak 1993 tinggal maintanance saja. Karena kualitas tekniknya masih mumpuni dan terjaga sejak 1982 tidak putus gunakan talenta lokal terbaik. Secara fisik pun mereka masih mampu bersaing dua musim ke depan. Itu kenapa saya tidak memakai servis pemain asing,” demikian kata Abah Tohir. Seperti dinukil dari Skor Indonesia.

Bah Tohir juga melihat keuntungan dari segi finansial bagi klubnya jika dirinya tidak mengambil opsi perekrutan pemain asing. Sebab para legiun asing sendiri sistem pemberian upahnya berbeda dengan pemain lokal. “Pemain asing kan harus dikontrak dan digaji. Sementara pemain lokal tidak dikontrak dan digaji. Mereka hanya dapat uang pertandingan,” tegas dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu pemain Persib 1994/95, Yadi Mulyadi, ketika banyak klub mendatangkan legiun asing Grade A seperti Roger Milla yang merupakan pemain jebolan Piala Dunia atau Dejan Gluscevic yang pernah membela Timnas Kroasia level junior, para pemain Persib musim itu justru termotivasi untuk membuktikan bahwa kualitas pemain lokal pun tak kalah dari mereka.

Di Liga Indonesia pertama, kami tanpa pemain asing. Itu jadi motivasi terbesar kami untuk membuktikan, pemain lokal juga bisa memberikan prestasi,” pekik Yadi. Seperti dinukil dari SuperBall. Bagi mantan Persib yang kini mengasuh Persib U-20 itu, skuad Persib era Perserikatan 1993/94 yang juga meraih trofi juara tak bisa ditampik mempunyai dampak besar bagi Persib dalam mencatatkan sejarah fenomenal tersebut.

Memang antara perserikatan dan Liga [Ligina] pertama punya sistem berbeda. Tetapi label juara Perserikatan juga modal dan kami tidak melakukan perubahan. Jadi pemain sudah saling mengetahui kemauan masing-masing, pungkasnya. Meskipun keluar sebagai yang terbaik. Bukan berarti Persib tanpa batu sandungan jelang mengangkat piala di Senayan pada 30 Juli 1995 itu. Pada laga perdana misalnya, mereka takluk dari Pelita Jaya Jakarta 0-1.

Sejak saat itu, Persib mulai berbenah. Hasilnya terlihat saat Yusuf Bachtiar cs merebut tiket 8 besar. Bersama Pelita Jaya, Bandung Raya, dan Medan Jaya, Persib mewakili tim terbaik di wilayah barat. Sementara tim-tim yang lolos di wilayah timur adalah Petrokimia Putra Gresik, Pupuk Kaltim Bontang, Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), dan Barito Putra.

Dari delapan finalis itu pula Persib menjadi satu-satunya delegasi dari klub eks Perserikatan. Pada babak 8 besar Persib tergabung di Grup B bersama Medan Jaya (peringkat keempat wilayah barat), Petrokimia Gresik (juara wilayah timur), dan ASGS (peringkat ketiga wilayah timur).

Anwar Sanusi cs lolos dengan status jawara grup B sedangkan Barito Putra sebagai runner-up grup A telah menanti di semifinal, 28 Juli 1995. Pada pertandingan yang berlangsung alot itu, para penggawa Persib sempat dibuat frustasi oleh sulitnya menjebol gawang Barito yang dijaga oleh Abdillah.
Konon, pemain Persib sempat terheran-heran dengan kejadian aneh tersebut. Beberapa pemain yang gagal mencetak gol sempat melakukan hal seperti menggoyang-goyang jaring gawang sampai membuang ludah di dalam gawang lawan.

Hal klenik terendus oleh Sutiono Lamso pada pertengahan babak kedua, Ia menemukan sebutir telur tergeletak di dekat gawang yang dijaga oleh kiper yang berkepala pelontos itu. Menyikapi hal itu, Sutiono langsung memecahkan telur tersebut. Abdillah yang melihat aksi itu sempat geram.

Tak berlangsung lama setelah Sutiono memecahkan telur, Persib berhasil mencetak gol lewat Kekey Zakaria di menit ke-80. Gol pemain asal Subang itu menjadi gol tunggal yang membekali Persib ke Stadion Utama Senayan, Jakarta, untuk melakoni partai final. Petrokimia Gresik yang pada laga semifinal lain berhasil membekuk Pupuk Kaltim dengan skor yang sama, 1-0, melalui gol Widodo Cahyono Putro, jadi lawan Persib di Senayan.

Anwar Sanusi, Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso merupakan 11 pertama Persib yang bertarung di final. Dengan skuad itu pula, Persib berhasil menyudahi perlawanan sengit Petrokimia lewat gol Sutiono Lamso di menit ke-76.

Bagi Sutiono, gol tunggalnya di partai final Ligina I 1994/95 ini melengkapi 21 golnya yang Ia cetak musim itu. Meski begitu, tak ada satu pun pemain Persib yang berhasil meraih titel individu musim itu. Gelar pencetak gol terbanyak diraih oleh Peri Sandria dengan 34 gol bersama Bandung Raya sementara Widodo Cahyono Putro dinobatkan sebagai pemain terbaik musim itu.

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit – Saat Juventus unggul dua gol atas AC Milan, saya pikir pertandingan sudah selesai. Tapi, kejutan terjadi karena Milan yang bermain di kandang sendiri membalikkan keadaan dan memgalahkan Juventus 4-2, di ajang Liga Italia, Rabu (8/7/2020) dinihari WIB. Juventus unggul dua gol melalui Adrien Rabiot menit 47 dan Cristiano Ronaldo di menit 53. Namun, Milan mampu bangkit. Dalam lima menit Milan mampu membalikkan keadaan. Pada menit 62, Zlatan Ibrahimovic menjebol gawang Juventus melalui tendangan penalti.

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit

Di menit 66, Franck Kessie mencetak gol kedua bagi Milan setelah menerima umpan Zlatan Ibrahimovic. Di menit 67, Rafael Leao mencetak gol ketiga AC Milan. Kedudukan pun menjadi 3-2 untuk tuan rumah. Di menit 80 Ante Rebic mencetak gol keempat bagi AC Milan.

Kemenangan ini membuat Milan ada di posisi lima klasemen sementara Liga Italia dengan 49 poin dari 31 laga. Milan unggul satu poin dari AS Roma dan Napoli yang ada di posisi enam dan tujuh klasemen sementara Liga Italia. Hanya saja, AS Roma dan Napoli baru bermain 30 kali.

Sementara, Juventus masih di puncak klasemen sementara Liga Italia. Juventus memiliki 75 poin dari 31 laga. Namun, kekalahan itu membuat Juventus tak bisa memperlebar jarak dengan Lazio. Lazio di posisi dua klasemen sementara Liga Italia dengan 68 poin dari 31 laga.

Dengan tujuh laga tersisa, Juventus hanya membutuhkan 15 poin untuk jadi juara Liga Italia. Namun, kebutuhan 15 poin itu bisa berkurang jika di tujuh laga sisa, Lazio tersandung di beberapa laga alias tak bisa menyapu semua laga dengan kemenangan.

Sementara, bintang kemenangan AC Milan atas Juventus, Zlatan Ibrahimovic mengungkapkan pandangannya. Dia mengatakan bahwa usia hanyalah angka. Sementara kualitas adalah yang utama. Seperti diberitakan football-italia.net mengutip DAZN, Ibra mengaku bahwa di laga melawan Juventus itu, dirinya merasa bermain lebih baik. Seperti diketahui, Ibra mencetak satu gol dan satu assist di laga melawan Juventus itu. Saat ini Ibra memang tak muda lagi. Pemain asal Swedia tersebut kini sudah berusia 38 tahun.

Sementara, pelatih Juventus Maurizio Sarri seperti diberitakan football-italia.net mengutip DAZN mengatakan bahwa anak asuhnya sudah bermain sangat bagus di 60 menit pertama. Dia mengatakan, anak asuhnya bermain dengan kelas dunia. Eks pelatih Napoli itu mengatakan bahwa di 60 menit pertama anak asuhnya bisa mengendalikan permainan. Imbasnya di 60 menit pertama, Juventus sudah unggul dua gol tanpa balas.

Namun, Sarri juga mengaku heran mengapa setelah menit 60, anak asuhnya bermain buruk sekali. Bahkan secara khusus dia menilai di 15 menit akhir, Juventus kocar-kacir. Imbasnya, Milan mampu menjebol gawang Juventus empat kali.

Dia mengatakan, bahwa laga melawan AC Milan itu akan dipelajari untuk perbaikan di laga selanjutnya. Baginya, banyak pelajaran yang bisa dipetik ketika kalah dari Milan.

Nation’s Pride yang Berujung Malapetaka

Nation’s Pride yang Berujung Malapetaka – 8 Juli 2014, pendukung Brazil yang memadati Estadio Mineirao di kota Belo Horizonte sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk menanti duel akbar kontra Jerman di babak semifinal. Segelas bir dingin, segenggam hot dog panas, dan jersey khas warna kuning jadi starterpack wajib warga Brazil yang saat itu datang ke stadion. Tak satupun yang punya feeling bahwa yang akan mereka saksikan nanti adalah pembantaian, bahkan yang tersadis sepanjang pagelaran Piala Dunia, terhadap negara mereka sendiri.

Nation’s Pride yang Berujung Malapetaka

Belo Horizonte bergemuruh kala pemain Brazil berjalan memasuki lapangan, beriringan dengan sang musuh. Tak ada yang janggal pada malam itu, kecuali starting eleven yang dipasang Luiz Felipe Scolari. Dante mengisi pos Thiago Silva, yang kena akumulasi kartu. Neymar yang cedera ditukar dengan Bernard. Lalu tiba-tiba Maicon jadi starter gantikan Dani Alves. Semua tampak aman terkendali, setidaknya sampai menit ke-11. Selanjutnya, adalah pertunjukan horor bagi publik tuan rumah.

Toni Kroos menendang sepak pojok pertama Jerman di pertandingan itu. Thomas Mueller, entah bagaimana, berdiri sangat bebas di tiang jauh tanpa pengawalan. Saking leluasanya, dia bahkan menyambut umpan Kroos dengan tendangan menyusur tanah. Gol. 1-0 Jerman. Seluruh pemain Brazil terperanjat melihat gol itu. Alarm bahaya sudah berbunyi, namun mereka terlalu lambat menyadarinya.

Sejak terciptanya gol perdana Jerman, mental punggawa Brazil langsung runtuh. Mereka tak lagi tenang saat membawa bola. Berkali-kali mereka melakukan salah passing. Serangan yang mereka bangun dari bawah selalu mentah di lapangan tengah. Publik tuan rumah mulai khawatir malam itu akan jadi malam penyiksaan yang begitu panjang bagi mereka. Mereka mungkin sedikit menyesali keputusan mereka untuk menonton langsung di stadion.

Gol kedua pun menyusul. Menit 23, Thomas Mueller sendirian mengacak-acak barisan pertahanan Brazil yang kelimpungan. Awalnya, Julio Cesar mampu menahan tendangan pertama dari Mueller, namun Miroslav Klose sudah siap menyambar bola rebound di bibir gawang. Ini gol ke-16 Klose di Piala Dunia, sekaligus mengantarnya ke puncak all time top scorer melewati rekor Ronaldo Nazario.

David Luiz, yang malam itu menjadi kapten, tak mampu menggantikan peran Thiago Silva sebagai komandan di lini pertahanan. Duetnya dengan Dante mungkin akan dikenang sebagai penampilan terburuknya selama membela panji Tim Samba. Empat bek yang tampil malam itu benar-benar lupa bagaimana cara bertahan.

Gawang Brazil kemudian kebobolan tiga gol lagi. Kroos mencetak brace di menit ke-24 dan 26. Sami Khedira menambah luka di menit ke-29. Para bek Brazil seakan diajak main kucing-kucingan oleh para penyerang Jerman. Mereka begitu mudah dipermainkan dengan umpan-umpan pendek di depan kotak pinalti. Skor 0-5 untuk Jerman menghiasi papan skor. Belo Horizonte jadi kota terkutuk malam itu.

Sang lawan memberondong lima gol ke gawang Brazil di paruh pertama. Estadio Mineirao kemudian mulai basah akibat gerimis yang turun dari langit dan air mata yang jatuh dari publik Brazil. Tawa canda yang ada seketika berubah jadi agonia. Tak ada lagi harapan untuk kembali. Brazil telah kalah sebelum permainan berakhir. Joachim Loew telah mengisntruksikan anak buahnya untuk mengendurkan permainan di babak kedua. Ia merasa aman sekaligus kasihan. Tiket final sudah di tangan, jadi tak perlu lagi menghabisi Brazil dengan lebih kejam lagi.

Namun sayang, Andre Schuerlle pergi ke toilet saat itu, sehingga ia mencetak dua gol di babak kedua. Gol Oscar di menit akhir seakan tidak ada artinya lagi untuk Brazil. Angka yang terpampang memang begitu mengiris. Jerman keluar sebagai pemenang dengan skor 1-7, mengubur impian Brazil untuk berlaga di partai pamungkas di depan penggemar mereka sendiri.

Impian untuk mengangkat trofi juara di rumah sendiri harus pupus. Seantero Brazil berduka atas kekalahan yang menyesakkan itu. Anak-anak yang tadinya melihat David Luiz dkk layaknya pahlawan kini menatap mereka laksana pecundang. Tapi di lain pihak, lawan-lawan mereka tertawa dalam hati. Mereka bahagia karena akhirnya orang Brazil menuai apa yang telah mereka tabur.

Contoh nyata adalah saat Brazil mengandaskan Kolombia. Satu yang diingat dalam pertandingan itu adalah tendangan bebas jarak jauh David Luiz yang menghujam deras ke sudut kanan atas gawang Ospina. Media Brazil meledek Kolombia dengan headline: “Luiz antar Kolombia ke luar angkasa”. Semua orang Brazil begitu yakin jika gelar Piala Dunia keenam sudah berada dalam genggaman mereka.

Sengaja atau tidak, rasa kepedan ini nyatanya juga menular ke tim sepakbolanya. Mereka lantas menemui kendala saat dua pemain penting mereka, Neymar dan Thiago Silva, harus absen di semifinal kontra Jerman. Dani Alves yang sebelumnya jadi starter tiba-tiba digantikan oleh Maicon. Tak ada yang tahu taktik apa yang dipilih Scolari di pertandingan itu. Mereka sama sekali tidak merasa waspada dengan kehancuran yang bisa dibawa Jerman.

Brazil tetap memainkan permainan ofensif yang tidak diimbangi dengan kestabilan di lini belakang. Marcelo selalu ketinggalan dalam transisi menyerang ke bertahan. Celah inilah yang dimaksimalkan betul oleh Jerman.

Pada akhirnya, mereka semua tersungkur malu setelah “dipermak” Die Mannschaft dengan skor yang amat telak. Semua pemain Brazil tergeletak di lapangan setelah wasit meniup peluit akhir pertandingan. Beberapa di antara mereka sampai tak kuasa menahan rasa sakit dan malu atas kekalahan itu. Namun pada akhirnya, mereka mempelajari sesuatu yang sangat berharga malam itu.

Nation’s pride yang mereka punya selama pagelaran Piala Dunia akhirnya harus lenyap berkat kejadian malam itu di Belo Horizonte. Mereka semua akhirnya menyadari, bahwa rasa percaya diri yang terlalu tinggi malah menyebabkan kehancuran bagi diri mereka sendiri.

Saat mereka menggembar-gemborkan kekuatan, di situlah rasa waspada jadi berkurang. Akhirnya, kekuatan itu berubah menjadi kelengahan yang tak termaafkan. Pertandingan itu dijuluki dengan sebutan Mineirazo, yang berarti tamparan Mineirao.

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah – PSSI memang makin lucu, sekaligus memprihatinkan. Saat dipimpin oleh Edy Rahmayadi, yang lebih memilih jadi Gubernur Sumatra Utara meski belum lama jadi Ketua Umum PSSI, ia banyak dicemooh karena komentarnya. Seperti “pelatih itu coach” misalnya. Sekarang penggantinya juga tak mau kalah. Kali ini soal alasan pembatalan Stadion Mandala Krida, Yogyakarta sebagai salah satu venue untuk even sarat gengsi, Piala Dunia U20.

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan bahwa alasan dicoretnya Stadion Mandala Krida karena ketakutan akan meletusnya Gunung Merapi. Sedangkan untuk Stadion Pakansari, Bogor yang juga sebelumnya disebut sebagai salah satu venue adalah karena kalah fasilitas disbanding Jakabaring dan Jalak Harupat. Merapi yang berjarak 29,2 km dari Stadion Mandala Krida menjadi salah satu andalan pariwisata Yogyakarta. Aktivitas Merapi sebagai gunung api yang berstatus aktif wajar saja, dan tidak mengganggu masyarakat. Erupsi terakhir terjadi pada 28 Maret 2020 lalu.

Maka tak salah jika Gubernur Di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X tersenyum setengah geli ketika ditanya wartawan soal gunung Merapi yang jadi alasan dibatalkannya Stadion Mandala Krida sebagai venue Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.

Kalangan pelaku dunia dunia pariwisata DIY pun menilai alasan PSSI itu cukup lucu. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Deddy Pranowo menyebut alasan yang disampaikan PSSI soal pembatalan Yogyakarta jadi venue Piala Dunia cukup lucu.

PSSI memang telah mengumumkan 6 stadion sebagai bakal venue Piala Dunia U-20. Stadion Mandala Krida yang sebelumnya masuk dalam daftar 10 venue tercoret. Ke 6 stadion tersebut adalah Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) — Jakarta, Stadion Gelora Sriwijaya — Palembang, Stadion Si Jalak Harupat – Kabupaten Bandung, Stadion Manahan — Solo, Stadion Gelora Bung Tomo — Surabaya dan Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar – Bali

Soal Mandala Krida kami sudah melihat, ini beberapa kali FIFA menanyakan tentang erupsi atau vulkanik atau gunung merapi,” kata Mochamad Iriawan, dalam jumpa pers di Kantor Kemenpora,3 Juli 2020. Nah itu yang menjadi catatan dari FIFA, kita tidak bisa menahan kapan gunung itu tidak menyemburkan laharnya kan, jadi itu pertimbangannya,” tambahnya.

Keputusan PSSI itu tentu saja mengecewakan masyarakat Yogyakarta yang sudah senang dengan ditunjuknya Mandala Krida sebagai salah satu venue Piala Dunia 2020 yang akan berlangsung pada tanggal 20 Mei-12 Juni 2021 mendatang.

Alasan PSSI mencoret Stadion Mandala Krida memang patut dipertanyakan. PSSI sudah meninjau stadion itu, mengakui fasilitas yang ada cukup bagus dan mendekati standar FIFA. Hanya beberapa yang perlu dibenahi seperti perlunya dibuat single seat, lalu tudung tribun VIP, jacuzzi atau tempat berendam setelah pemain berlaga, juga sejumlah kamar mandi yang harus direnovasi.

Stadion Mandala Krida yang dibangun pada tahun 1976 dan memiliki kapasitas 35 ribu penonton itu juga sudah direnovasi pada 2019. Lokasinya strategis sebagai venue Piala Dunia U-20 2021, berada di pusat kota. Bukan di pinggiran seperti stadion besar umumnya. Ini membuat Mandala Krida menjadi lokasi pas karena jaraknya cukup dekat dengan sejumlah sarana seperti hotel-hotel dan stadion pendukung.

Bisa dipertanyakan, jika erupsi gunung Merapi yang jadi alasan PSSI, ketakutan akan letusan, jelas terasa mengada-ada. Apakah di Bali misalnya bisa dijamin Gunung Agung tidak beraktivitas, erupsi?. Apakah epidemi Corvid-19 sudah mereda atau benar-benar lenyap pada gelaran even paling bergengsi tersebut? Ini mengingat Surabaya yang saat ini tercatat sebagai provinsi dengan kasus tertinggi di Indonesia.

Maka langkah PSSI dengan gegabah menetapkan 6 stadion tersebut, yang masih menanti persetujuan dari FIFA, bisa dipertanyakan. Jangan nanti jadi bahan tertawaan. Ucapan Sultan Hamengku Buwono X juga menjadi sindiran bagi PSSI, saat ia mengatakan bahwa Merapi memang beraktivitas dan tidak bisa pindah. Lha arep mindah Merapi piye nek alesane Merapi, ya kan? (Lha bagaimana mau memindahkan Merapi kalau alasan pencoretan dari FIFA karena aktivitas Merapi),” kata Sultan.

Entah apa alasan dari PSSI jika nanti ternyata Mandala Krida yang dipilih oleh FIFA. Apakah akan mengatakan “Merapi ternyata tidak menakutkan.

Mimpi Juara Baru Liga Italia Ambyar Serie A Akan Juventus pada Waktunya

Mimpi Juara Baru Liga Italia Ambyar Serie A Akan Juventus pada Waktunya – Mario Balotelli memang tidak banyak omong seperti Zlatan Ibrahimovic. Dia lebih banyak diam. Pemalu bila di depan kamera. Tapi, sekali bicara, ucapan Balo seringkali jadi viral. Selain kocak, ucapan Balo juga seringkali memicu kontroversi. Dia pernah berujar dirinya lebih baik dari Cristiano Ronaldo. Dia juga pernah menyebut Silvio Berlusconi hanya tahu sedikit soal dirinya ketika menyebut Antonio Cassano talenta muda terbaik Italia.

Mimpi Juara Baru Liga Italia Ambyar Serie A Akan Juventus pada Waktunya

Mimpi Juara Baru Liga Italia Ambyar Serie A Akan Juventus pada Waktunya

Balo juga pernah menabrakkan mobil Audinya sembari membawa duit 5000 pounds di saku celananya. Ketika diinterogasi polisi karena alasan membawa uang dalam jumlah besar, dia menjawab singkat: “Karena aku kaya. Nah, Maret lalu, sesaat setelah Liga Serie A Italia diputuskan untuk berhenti sementara karena pandemi Covid-19, Balo yang kariernya kini meredup, kembali berkomentar.

Dia menyebut pihak operator Serie A sengaja menghentikan liga di pekan ke-26 setelah Juventus ada di puncak klasemen, menggeser Lazio. Kenapa liga tidak dihentikan ketika Lazio sedang di puncak klasemen. Balo seolah ingin berujar, seandainya liga tidak berlanjut karena pandemi, maka Juve-lah yang akan dinyatakan juara. Sebab, Juve tengah memimpin klasemen. Bukan Lazio.

Terlepas dari ketidaksukaannya kepada Juventus, pernyataan Balotelli tersebut mungkin juga mewakili keinginan banyak pecinta Liga Italia yang ingin melihat tampilnya “juara baru” di Serie A. Atas nama “demi menyelamatkan Serie A dari ‘kebosanan’, ada harapan agar juaranya kali ini bukan Juventus. Rasanya bosan bila Juve yang terus juara. Mereka juara beruntun sejak musim 2011/12 silam. Bayangkan, delapan musim, selalu tim itu juaranya.

Yang terjadi, Liga Italia kembali diputar. Restart. Tidak ada juara karena penunjukan. Artinya, harapan untuk melihat “tim bukan Juventus” yang juara, kembali terbuka lebar. Apalagi, ketika Liga Italia kembali dimulai pada 23 Juni lalu, selisih poin Lazio dengan Juventus hanya berjarak satu (1) poin. Sementara, masih ada 12 pertandingan. Masih ada 36 poin yang bisa diraih. Artinya, peluang melihat “bukan Juve yang juara” itu masih terbuka.

Apalagi, tiga hari jelang restart Serie A, Juve kalah di final Coppa Italia. Mereka kalah adu penalti 2-4 dari Napoli. Media-media di Italia juga memberitakan terjadi friksi di kubu Juve. Mantan presiden klub Juve, bahkan menyindir Juve nya Maurizio Sarri mengecewakan.

Artinya, ada harapan, Lazio yang mampu mengalahkan Juve pada pertemuan di bulan Desember, akan bisa bersaing di jalur juara. Terlebih, Lazio tidak pernah lagi kalah dalam 21 laga, menang 17 kali dan imbang 4 kali.

Namun, yang terjadi, harapan tinggal harapan. Lazio yang dijagokan bisa bersaing di jalur juara, ternyata malah melempem di laga awal restart. Lazio kalah 2-3 dari tuan rumah Atalanta pada 25 Juni lalu. Dan, pada akhir pekan kemarin, Lazio yang bermain di kandang sendiri, dipermalukan AC Milan 3-0. Dalam empat laga setelah Serie A restart, Lazio kalah dua kali dan menang dua kali.

Nasib serupa juga dialami Inter Milan yang sejatinya masih punya peluang. Sejak laga restart, dari empat kali main, Inter meraih tiga kemenangan dan sekali imbang. Bahkan, pada 2 Juli lalu, Inter Milan menang 6-0 atas Brescia. Namun, Minggu (5/7) tadi malam, Inter justru kalah di kandang sendiri. Siapa menyangka, Inter yang sedang ganas, malah dipermalukan Bologna 1-2 di kandangnya sendiri.

Bagaimana dengan Juventus

Mereka terus menang. Empat laga dilewati dengan kemenangan. Terbaru, Juventus meraih kemenangan 4-1 atas tim sekota, Torino pada Sabtu (4/7) malam kemarin. Karenanya, kombinasi kemenangan beruntun Juve, juga “kado” dari Milan saat mengalahkan Lazio dan tumbangnya Inter Milan, membuat peta persaingan juara di Liga Italia menjadi mudah ditebak. Ya, hanya dalam empat laga, seiring penampilan loyo Lazio dan juga kekalahan Inter, harapan “asal bukan Juve yang juara” itupun seolah kandas. Berganti tagline “semua akan Juve pada waktunya”.

Sebab, Juventus kini memimpin klasemen dengan 75 poin. Mereka unggul 7 poin dari Lazio (68 poin) dan 11 poin dari Inter (64 poin) dengan liga menyisakan 8 laga. Memang, apapun masih bisa terjadi dalam 8 laga terakhir ke depan. Tetapi, rasanya sulit mengejar Juve yang sudah melaju gas pol. Sulit mengandaikan Juve bakal ‘terpeleset’ (kalah) di tiga laga dan Lazio terus menang. Pendek kata, sulit membayangkan Lazio bakal menggeser Juve dari puncak klasemen.

Faktor Cristiano Ronaldo jadi pembeda

Mengapa Juve bisa melesat meninggalkan Lazio hanya dalam empat pertandingan. Motivasi menjadi kunci. Usai kekalahan adu penalti dari Napoli di final Coppa Italia, Juve langsung ‘mengamuk’ di Liga Italia. Si Nyonya Tua–julukan Juve, tidak ingin mengakhiri musim tanpa gelar. Bilapun Coppa Italia lepas, Serie A tidak boleh ikut lepas.

Namun, bila bicara motivasi, seharusnya pemain-pemain Lazio juga memiliki motivasi yang tidak kalah besar. Bahkan mungkin lebih besar.
Sebab, bila pemain-pemain Juve dalam 8 tahun terakhir selalu merayakan gelar di akhir musim, Lazio sudah menunggu 20 tahun.

Kali terakhir Lazio juara pada musim 1999/20 ketika mereka punya skuad impian. Nah, peluang kembali juara setelah dua dekade, seharusnya membuat motivasi tim asuhan Simone Inzaghi membuncah. Tapi kenyataannya tidak begitu. Lalu, apa yang membedakan keduanya. Bukan melulu motivasi. Tapi kemampuan dalam mengatasi tekanan. Serta, kondisi tim setelah tiga bulan tanpa berkompetisi. Dalam hal ini, Juventus beruntung memiliki Cristiano Ronaldo.

Ya, di situasi mendebarkan persaingan ketat menuju akhir kompetisi, Juve beruntung memiliki pemain sekelas Ronaldo. Pemain bermental pemenang yang menyukai tantangan. Di usianya yang kini sudah 35 tahun, Ronaldo memberi bukti, dirinya masih bisa diandalkan.

Faktanya, di empat pertandingan terakhir, Ronaldo selalu bikin gol. Lima hari usai kekalahan dari Napoli, Ronaldo membawa Juve menang 2-0 atas tuan rumah Bologna (23/6). Dia mencetak satu gol dari penalti. Gol yang seperti menjadi penegas. Bahwa, kegagalannya mengambil penalti saat melawan Milan, hanya karena dirinya sedang sial.

Empat hari berselang, dia kembali membuat satu gol dari titik penalti saat Juventus menang telak, 4-0 atas Lecce. Lantas, di awal Juli, Ronaldo mencetak gol keren dari luar kotak penalti ketika Juve menang 3-1 atas Lecce. Sebelum mencetak gol, Ronaldo membawa bola dari tengah lapangan dan menggiringnya di tengah hadangan beberapa pemain Genoa, sebelum melepas tendangan roket.

Dan, Minggu (5/7) dini hari kemarin, Ronaldo kembali jadi lakon utama saat Juventus mengalahkan Torino 4-1 di laga derby Turin. Ronaldo mencetak satu assist dan satu gol. Nah, yang menarik, satu gol Ronaldo tercipta melalui tendangan bebas. Pemain yang identik dengan kostum nomor 7 ini akhirnya kembali bisa mencetak gol dari free kick. Sebelum gol itu, Ronaldo tidak pernah lagi mencetak gol free kick di klub dalam 42 kali percobaan.

Itu gol ke-25 Ronaldo di Liga Italia musim ini. Lebih baik dari pencapaiannya di musim perdananya lalu dengan 21 gol. Ronaldo kini jadi pemain pertama Juventus yang mencetak 25 gol di Serie A sejak Omar Sivori melakukannya pada musim 1960-61 lalu. Ulasan lengkapnya sebelumnya saya tulis di sini https://www.kompasiana.com/hadi.santoso/5f01567f097f3630d263de12/cristiano-ronaldo-melupakan-nestapa-seperti-lagu-let-it-be.

Ah, bila Ronaldo sudah ganas dan lapar gol, apa yang bisa dilakukan tim-tim pesaing Juve. Lazio hanya bisa meratapi, mengapa mereka tidak memiliki ‘pemain unik’ seperti Ronaldo ketika melakoni jadwal berat melawan Atalanta dan Milan. Dalam pernyataan kepada awak media, pelatih Lazio, Simone Inzaghi menyebut timnya sedang bermasalah. Sementara pelatih Inter Milan, Antonio Conte, sudah mengisyaratkan mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Dalam wawancara dengan Football Italia usai kekalahan dari Bologna dini hari tadi, Conte menyebut fokus utama timnya kini adalah mengamankan posisi empat besar untuk lolos ke Liga Champions.

Bukan Kutukan tapi Gambaran Untuk Team Ini

Bukan Kutukan tapi Gambaran Untuk Team Ini – Tumbangnya Lazio di giornata ke-30 Liga Italia Serie A di stadion Olimpico Roma bukanlah kutukan… melainkan gambaran tentang bagaimana penampilan dan motivasi tim Biancoceleste yang terbaru. Bertanding di kandang sendiri, meski tanpa Ciro Immobile, semestinya Lazio tidak sampai harus kalah telak dengan skor 0-3. Apalagi mengingat tabel klasemen sementara yang berselisih tujuh poin dengan Juve yang berhasil menundukkan Torino di Derby Turin.

Bukan Kutukan tapi Gambaran Untuk Team Ini

Bukan Kutukan tapi Gambaran Untuk Team Ini

Mentalitas pemenang semestinya bisa ditunjukkan, gairah memenangkan pertandingan seharusnya bisa bukan sebatas angan-angan. Andaikata gelar scudetto yang ke-3 bagi mereka adalah mimpi yang semestinya terwujud nyata. Lazio hanya menderita dua kekalahan, mampu mengemas 19 kemenangan sebelum kompetisi dihentikan di pekan ke-26, akibat pandemi virus corona yang melanda dunia.

Kini, hanya dari empat pertandingan lanjutan kompetisi yang sudah dimainkan dari mulai giornata ke-27 hingga ke-30 Liga Italia, Lazio takluk dua kali. Dikalahkan Atalanta dengan skor 2-3 dan pekan ini menyerah 0-3 ditundukkan AC Milan.

Immobile memang masih menjadi sang capocannonieri sementara dengan torehan 29 gol hingga pekan ini, mengungguli seorang Ronaldo yang mencetak 25 gol.

Luis Alberto masih jadi penyumbang assist terbanyak bagi Lazio dengan total 14 assist di statistik sementara, hanya kalah satu assist dengan salah satu pemain Atalanta yang totalnya sudah mampu mengoleksi 15 assist hingga pekan ini.

Tapi… jika penampilan Lazio hanya bisa sampai di titik ini, dengan sisa 8 pertandingan menuju akhir kompetisi, maka bersiaplah bagi seorang Claudio Lotito sebagai Presiden Klub, untuk kembali menahan diri merayakan scudetto di lain musim kompetisi yang bukan tahun ini.

Bukan hanya Lotito juga Simone Inzaghi sang allenatore Lazio… para Laziale yang tersebar di daratan Eropa juga di belahan bumi lainnya, akan kembali gigit jari, sembari menanti tim elang ibukota untuk kembali bisa berprestasi mengangkat trofi.

Bereuni dengan Guardiola di Man City Akan Menggoda bagi Messi

Bereuni dengan Guardiola di Man City Akan Menggoda bagi Messi – Legenda Barcelona Rivaldo mengomentari rumor kepergian Lionel Messi. Menurut Rivaldo, Manchester City memungkinkan menjadi tujuan Messi berikutnya. Megabintang sepakbola Argentina itu sedang hangat diberitakan akan hengkang usai kontraknya di Barcelona habis pada 2021. Messi disebut-sebut telah menghentikan negosiasi kontrak baru karena frustrasi dengan situasi di klub dan skuad yang kurang kompetitif.

Bereuni dengan Guardiola di Man City Akan Menggoda bagi Messi

Dengan hanya satu tahun tersisa di kontraknya rumor Messi ingin pergi bisa jadi benar, tapi seperti yang selalu saya bilang, saya percaya dia bisa mengakhiri kariernya di Barcelona, kata Rivaldo dilansir SPORT. Bagaimanapun, kalau dia pergi, saya tidak bisa membayangkan dia bermain di klub Eropa lainnya.

Kalau dia mempertimbangkan pergi maka ada sesuatu yang buruk di ruang ganti Barcelona dan mungkin dia lelah dengan segala masalah yang terus menyelimuti klub dalam beberapa bulan terakhir. Juventus dikabarkan berminat memboyong Messi untuk menciptakan duet super bersama Cristiano Ronaldo. Namun, belakangan Man City dimunculkan karena faktor Pep Guardiola, mantan pelatih Messi yang kini menukangi Man City.

Guardiola dan Messi pernah bekerja sama di antara tahun 2008-2012 dengan memenangi 14 trofi, termasuk ketika memenangi enam kompetisi di sepanjang 2009. Toh setelah meninggalkan Camp Nou, Guardiola tidak pernah bisa lagi memenangi gelar Liga Champions sedangkan Messi hanya sekali menjuarainya di 2015.

Meskipun sudah berumur, Messi bisa bermain di Premier League dengan mudah. Ketika kontraknya habis Messi akan berusia 34 tahun, tapi dia dengan kelasnya, saya pikir dia bisa dengan mudah bermain di Premier League. Akan sangat disayangkan melihat dia meninggalkan Barcelona sekalinya kontraknya habis nanti, tapi saya masih berharap dia akan bertahan.

Terlepas dari koneksinya dengan klub, dia punya hak untuk pergi kalau dia menginginkannya dan bereuni kembali dengan Pep Guardiola di City akan menggoda untuk dia, karena keduanya dulu membentu kerjasama yang hebat antara pelatih dan pemain di Barca.