AC Milan melanjutkan tren positifnya di pekan ke 34 AC Mila 8 Laga 25 Gol

AC Milan melanjutkan tren positifnya di pekan ke 34 AC Mila 8 Laga 25 Gol – saat menjamu Bologna. Bermain impresif sejak babak pertama Milan akhirnya menang dengan skor 5-1. Hasil ini menunjukkan produktifitas gol yang signifikan bagi tim yang berasal dari kota mode ini..

AC Milan melanjutkan tren positifnya di pekan ke 34 AC Mila 8 Laga 25 Gol

AC Milan melanjutkan tren positifnya di pekan ke 34 AC Mila 8 Laga 25 Gol

Hingga Giornata ke-34, Tim asuhan Stefano Pioli telah mengemas 25 gol dari 8 laga di Seri A Italia, dengan 6 kali kemenangan dan 2 imbang, dan sejak sepak bola di tanah Italia bergulir kembali setelah dihentikan karena Pandemik Corona, Milan belum pernah mengalami kekalahan.

Mengawali laga dengan bertamu ke markas Lecce, Milan menang 4-1. Laga kedua Ibra dkk menjamu pasukan Srigala Ibu Kota, As Roma. Dilaga tersebut Milan menang 2-0 atas Roma.

Pertandingan selanjutnya Milan bertandang ke markas SPAL, hasil imbang diraih sehingga Milan harus rela berbagi poin 1 sama dengan tuan rumah.

Laga ke empat Rossoneri bertandang ke Olympic Stadium, markas dari Elang Ibukota, Lazio. Tim yang lagi berebut posisi untuk meraih Scudetto pun akhirnya harus menerima pil pahit setelah dikalahkan dikandang sendiri dengan sekor 0-3 oleh Milan.

Milan kembali menang dengan margin gol banyak setelah menjamu si Nyonya Tua, Juventus dengan skor 4-2. Ronaldo dkk dibuat pulang dengan tanpa poin oleh tim asuhan Pioli.

Di laga selanjutnya Romagnoli dkk harus bermain imbang dengan skor 2-2 di markas milik Napoli, San Paolo. Milan bertemu dengan mantan pelatih yang juga legenda AC Milan, Genaro Gattuso yang saat ini menukangi Napoli.

Kemenangan ketujuh diraih Milan saat menjamu tamunya Parma dengan skor 3-1, dan dini hari tadi (Minggu, 19/7) Milan baru saja menghajar tim asuhan Sinisa Mihajlovic yang juga mantan pelatih AC Milan. Milan menang dengan skor meyakinkan 5-1 di stadion kebanggaan mereka, San Siro.

Rentetan hasil positif ini membuka asa bagi Pasukan Merah-Hitam untuk berlaga di Liga Eropa musim depan. Mereka menempel ketat As Roma yang berada di posisi kelima dengan selisih 1 poin.

Laga selanjutnya (22 Juli 2020) Rossoneri akan bertandang ke markas Sassuolo, Mapei Stadium. Mampukah Lord Ibra dkk melanjutkan tren positif mereka, patut kita nanti dan saksikan perjuangan tim yang punya sejarah besar di ranah sepak bola Negeri Pizza, Italia.

Pemecatan Valverde adalah Awal dari Kehancuran Barcelona Musim Ini

Pemecatan Valverde adalah Awal dari Kehancuran Barcelona Musim Ini – Hancur ! Itulah kalimat yang pantas disemprotkan kepada Barcelona. Musim ini Barcelona benar-benar gagal total, mereka gagal mempertahankan gelar La Liga dan harus merelakannya kepada Real Madrid, dan mereka juga gagal total di Copa Del Rey dan Supercopa Espana.

Pemecatan Valverde adalah Awal dari Kehancuran Barcelona Musim IniĀ Pemecatan Valverde adalah Awal dari Kehancuran Barcelona Musim Ini

 

Praktis hanya tinggal Liga Champions yang menjadi satu-satunya harapan untuk Barcelona, itu juga sangatlah sulit mengingat klub-klub Liga Champions lainya juga tampil luar biasa ditambah dengan penampilan Barcelona musim ini yang sangat kacau dan memprihatinkan. Hingga kini, masih banyak yang bertanya apa yang menjadi penyebab hancurnya Barcelona musim obi?

Bagi saya sendiri, penyebab kehancuran Barcelona adalah dipecatnya sang pelatih Ernesto Valverde oleh petinggi Barcelona. Ketika Valverde dipecat pada bulan Desember 2019 setelah kalah dari Atletico Madrid pada semifinal Supercopa Espana, seluruh fans Barcelona di Spanyol dan seluruh dunia seolah “berpesta”, mereka menganggap bahwa Valverde telah menghancurkan identitas asli Barcelona yang selama ini terkenal dengan tiki taka nya.

Ketika ditanya apa alasan dipecatnya Valverde ? Para petinggi Barcelona mengatakan bahwa Valverde dipecat demi kepentingan “Fans” dan ” Nilai Identitas”. Bagi saya sendiri , saya sudah mempunyai firasat buruk terhadap pemecatan Valverde itu sendiri terhadap Barcelona ke depanya. Bagaimana mungkin Valverde yang mampu membawa Barcelona meraih 2 trofi La Liga di 2 musim berturut-turut, 1 trofi Copa Del Rey dan Supercopa Espana harus dipecat karena “kepentingan Fans”?

Satu lagi yang perlu diingat adalah dia mampu membawa Barcelona meraih kemenangan atas Madrid di Santiago Bernabeu dalam dua musim berturut-turut. bahkan pada tahun 2019, Valverde mampu membawa Barcelona mengalahkan Madrid 2 kali hanya dalam waktu seminggu !.

Memang musim lalu, Barcelona mengalami kekalahan paling tragis dalam sejarah ketika harus babak belur dan mengalami comeback tragis ketika menghadapi Liverpool di semifinal Liga Champions, namun dengan apa yang sudah dilakukan oleh Valverde dalam dua musim terakhir, tentu pemecatan tersebut tidak seharusnya dilakukan.

Ketika Barcelona menunjuk Quique Setien untuk menggantikan Valverde, itulah yang menjadi awal dari mimpi buruk Barcelona. Setien hanyalah pelatih medioker minim prestasi dimana prestasi tertingginya adalah membawa Real Betis menembus Europa League. Tentu ini menjadi pertanyaan mengingat masih banyak pelatih lain yang jauh lebih layak dibandingkan dengan Setien itu sendiri seperti Rafael Benitez, Niko Kovac, Allegri, Ancelotti ataupun Pochettino.

Dari sini saya sadar bahwa Valverde hanyalah korban “perpolitikan ” semata di Barcelona. Harus diakui bahwa kondisi manajemen Barcelona sedang kacau balau dan adanya konflik serta masalah internal di antara petinggi klub.

Semua konflik dan masalah yang terjadi itulah yang akhirnya berpengaruh terhadap berbagai kebijakan kebijakan klub musim ini salah satunya adalah pembelian dan penjualan pemain hingga akhirnya merembet terhadap pemecatan Valverde dan penunjukan Setien sebagai pelatih.

Frankie De Jong yang sempat digadang untuk menjadi “Power Ranger” lini tengah Barcelona seolah bingung dengan posisi dan peran barunya di Barcelona ditambah lagi dengan kondisi lini belakang Barcelona yang mulai keropos dengan ketidak konsisten Pique dan Umtiti musim ini.

Real Madrid memastikan juara Liga Spanyol musim 2019-2020 di pekan 37

Real Madrid memastikan juara Liga Spanyol musim 2019-2020 di pekan 37 – Madrid mampu mengalahkan Villarreal 2-1. Sementara pesaing Madrid, Barcelona malah kalah dari Osasuna 1-2. Bagi Madrid, ini adalah trofi LaLiga 34 dalam sejarah mereka. Kemenangan atas Villarreal membuat Madrid memiliki 86 poin dan berada di peringkat pertama klasemen. Sementara, kekalahan dari Osasuna membuat Barcelona memiliki 79 poin dan berada di peringkat dua klasemen. Dengan satu laga sisa, tak mungkin bagi Barcelona melewati nilai Madrid.

Real Madrid memastikan juara Liga Spanyol musim 2019-2020 di pekan 37

Real Madrid memastikan juara Liga Spanyol musim 2019-2020 di pekan 37

Di laga melawan Villarreal, gol pertama Real Madrid dibuat Karim Benzema di menit 29. Striker asal Prancis itu mencetak gol setelah menerima umpan Luka Modric. Di menit 77, Benzema mencetak gol kedua bagi Madrid melalui tendangan penalti. Momen gol kedua ini sempat diawali dengan insiden dibatalkannya penalti Sergio Ramos. Ramos mengambil tendangan penalti. Namun dia tak menendang langsung ke arah gawang, melainkan memberikan umpan ke Benzema. Kemudian, Benzema menjebol gawang Villarreal.

Namun, gol Benzema itu dianulir karena saat Ramos belum mengumpan, Benzema sudah masuk kotak penalti. Akhirnya penalti diulang dan Benzema yang mengeksekusi langsung hingga menjebol gawang Villarreal. Di menit 83, Vicente Iborra menjebol gawang Madrid melalui tandukan. Sebenarnya di menit tambahan waktu, Madrid membuat gol ketiga melalui Asensio. Namun, gol itu dianulir karena sebelum gol terjadi, Karim Benzema handball.

Di sisi lain, Barcelona yang butuh kemenangan agar asa menjadi juara LaLiga terjaga, malah kalah dari Osasuna. Bermain di kandang sendiri, Barcelona tertinggal di babak pertama. Arnaiz mencetak gol bagi Osasuna di menit 15. Barcelona baru bisa menyamakan kedudukan di menit 62 melalui Lionel Messi. Menit 75 Osasuna bermain dengan 10 orang karena Enric Gallego mendapatkan kartu merah.

Sayangnya, keunggulan jumlah pemain tak bisa dimanfaatkan Barcelona. Anak asuh Quique Satien itu malah kebobolan di menit 90 melalui Roberto Torres. Sampai laga berakhir, Barcelona tak bisa menyamakan kedudukan. Keberhasilan Real Madrid sebagai juara Liga Spanyol musim ini jadi pembuktian Zinedine Zidane. Pelatih Madrid asal Prancis itu telah menjelaskan bagaimana kapasitas kepelatihannya. Ini adalah trofi LaLiga kedua yang didapatkan Zidane bersama Madrid dalam kapasitasnya sebagai pelatih.

Sebenarnya saat menjadi pelatih Madrid di periode pertama, Zidane sudah membuktikan kelasnya dengan baik. Dia memberikan banyak trofi pada Madrid. Empat trofi di antaranya adalah tiga kali juara Liga Champions dan sekali juara Liga Spanyol. Namun, keberhasilan Zidane kala itu masih dipertanyakan. Sebab, saat itu Madrid memiliki Cristiano Ronaldo yang sangat dominan. Maka keberhasilan Madrid kala itu lebih identik sebagai kehebatan Ronaldo.

Kini, di periode kepelatihan kedua, Zidane mampu memberikan gelar pada Madrid tanpa Ronaldo. Sekadar diketahui, sejak pertengahan 2018, Ronaldo sudah berlabuh ke Juventus. Potensi Zidane menambah gelar bagi Madrid di musim ini juga masih ada. Madrid masih berkesempatan juara Liga Champions. Mereka masih berjuang untuk lolos ke babak 8 besar. Striker Real Madrid Karim Benzema sedang memburu Lionel Messi untuk urusan pencetak gol terbanyak.

Keberhasilan Benzema mencetak dua gol ke gawang Villarreal membuatnya kini telah mencetak 21 gol di ajang LaLiga. Jumlah yang dibukukan Benzema terpaut dua gol dengan Messi. Kini, Messi telah mencetak 23 gol bagi Barcelona di ajang LaLiga. Dengan satu laga tersisa, masih mungkin bagi Benzema untuk melewati Messi. Benzema bisa menyabet gelar pencetak gol terbanyak musim ini jika setidaknya membuat tiga di laga pamungkas. Lawan Madrid di laga pamungkas adalah Leganes.

Namun, syarat bagi Benzema bukan hanya itu. Di sisi lain, Messi juga jangan mencetak gol di laga pamungkas. Di laga penutup musim ini, Barcelona akan melawan Alaves. Jika Benzema mampu menjadi pencetak gol terbanyak musim ini, maka akan jadi torehan istimewa. Sebab, selama merumput bersama Real Madrid sejak 2009, Benzema tak pernah menyabet gelar pencetak gol terbanyak LaLiga atau yang beken disebut Pichichi Trophy.

Courtois Bisa Sabet Trofi Zamora Ada satu prestasi lagi yang bisa didapatkan punggawa Madrid yakni Trofi Zamora. Bahkan, trofi ini bisa dikatakan hampir pasti didapatkan. Sampai pekan 37, kiper Madrid Thibaut Courtois hanya kebobolan 19 gol. Dia nangkring di posisi pertama kiper yang paling sedikit kebobolan. Saingan terdekat Courtois adalah kiper Atletico Madrid, Jan Oblak. Tapi, Jan Oblak sudah kebobolan 26 gol.

Maka, Courtois sangat berpeluang besar menyabet Trofi Zamora. Hal yang bisa menggagalkan Courtois mendapatkan Trofi Zamora adalah dia kebobolan 8 gol di laga pamungkas dan Jan Oblak tak kebobolan. Namun, kebobolan 8 gol dalam satu laga bagi Courtois sepertinya mustahil. Atau kalau ingin aman Courtois dapat Trofi Zamora adalah Zidane tak memasangnya di laga pamungkas.

Gol El Capitano Mewarnai Kemenangan Milan atas Tamunya di San Siro Stadium

Gol El Capitano Mewarnai Kemenangan Milan atas Tamunya di San Siro Stadium – Menjalani Giornata ke-33, AC Milan menjamu tamunya Parma di stadion San Siro pada Kamis (16/7) dini hari. Bermain dengan kekuatan penuh demi menjaga asa naik di papan klasemen sementara Seri A Italia, I Rossoneri justru kebobolan lebih dulu pada babak pertama menjelang turun minum.

Gol El Capitano Mewarnai Kemenangan Milan atas Tamunya di San Siro Stadium

Gol El Capitano Mewarnai Kemenangan Milan atas Tamunya di San Siro Stadium

Pasukan Stefano Pioli tidak membutuhkan waktu lama untuk menyamakan kedudukan. Melalui tendangan keras Franck Kessie dari luar kotak pinalti, bola menghujam keras jala gawang yang dijaga oleh Luigi Seppe, sang kiper pun tak berkutik hanya bisa menyaksikan gawangnya kebobolan pada menit ke-55.

Tak berselang lama, sepakan pojok dari Calhanoglu pada menit ke-59 diselesaikan dengan apik oleh sang kapten I Diavollo Rosso, Allesio Romagnoli. Kedudukan pun berbalik unggul bagi Milan, 2-1.

Ibra dkk nampaknya memanfaatkan betul permainan dikandang, sehingga permainan betul-betul dikuasai pasukan Merah-Hitam. Serangan demi serangan dilancarkan oleh para pemain AC Milan, hingga akhirnya umpan dari Jack Bonaventura diselesaikan dengan gol oleh Calhanoglu pada menit ke-77.

Milan nampaknya sudah diatas angin dengan 2 keunggulan, namun mereka tidak mengendorkan serangan ke lini pertahanan Parma. Skor bertahan hingga wasit membunyikan peluit panjang tanda bertanding berakhir.

Tren positif yang dijaga Romagnoli dkk, membuat mereka kini mengumpulkan 53 poin dari 33 laga. Milan masih berada di posisi ke-7 klasemen sementara Seri A Italia, dengan perolehan poin yang sama dengan Napoli, mengingat The Naples (julukan Napoli) hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Bologna.

Zona Liga Champions Antara Chelsea Leicester dan Manchester United

Zona Liga Champions Antara Chelsea Leicester dan Manchester United – Liga Primer Inggris hanya menyisakan 3 laga lagi. Semakin menarik diikuti tim mana saja yang akan masuk dalam zona Liga Champions tahun depan. Ada dua tim yang tersisa mengikuti Liverpool dan Manchester City yang memenangkan banding mereka melalui CAS (Court of Arbitration for Sport) terhadap hukumnan UEFA. Dengan demikian tidak ada lagi tiket gratis untuk peringkat ke-5 klasemen akhir Premier League.

Zona Liga Champions Antara Chelsea Leicester dan Manchester United

Zona Liga Champions Antara Chelsea Leicester dan Manchester United

Dua tiket lagi untuk berlaga di Liga Champions tahun depan akan diperebutkan oleh paling tidak tiga tim ini. Mereka adalah Chelsea peringkat 3 dengan 60 poin, Leicester peringkat 4 memiliki 59 poin dengan keunggulan selisih gol dan Manchester United peringkat 5 dengan 59 poin. Bagaimanakah peluang mereka untuk lolos meraih tiket Liga Champions tahun depan? Mari kita simak ulasan berikut ini. Saat ini Chelsea memiliki 60 poin diperingkat 3 menyisakan 3 laga.

Dari Jadwal tersebut pertemuan Chelsea dengan Liverpool dan Wolves patut menjadi perhatian. Liverpool sudah jelas masih memiliki gairah bertanding yang tinggi untuk meraih 100 poin. Mereka adalah lawan yang kuat dan terberat bagi Chelsea. Demikian pula Wolverhampton sangat berambisi meraih tiket untuk kualifikasi Liga Eropa. Bersaing dengan Sheffield United, Spurs dan Arsenal. Dalam dua laga melawan Liverpool dan Wolves kemungkinan Chelsea hanya meraih 3 poin dari Wolves.

Sedangkan melawan Norwich City diprediksi bisa diraih 3 poin penuh. Mereka berhasil mengumpulkan 6 poin sehingga mengumpulkan 66 poin diakhir kompetisi. The Fox ada diperingkat 4 dengan 59 poin. Dari jadwal yang tertera Leicester berhadapan dengan Sheffield United yang sedang menanjak performanya. Selanjutnya The Fox berkunjung ke London. Berhadapan dengan lawan serius asuhan Jose Mourinho, Tottenham Hotspur yang sangat berambisi lolos ke Liga Eropa.

Prediksi dalam dua laga ini mereka hanya mendapat 2 poin atau 3 poin. Pada laga terakhir Leicester harus bertanding hidup mati melawan Manchester United pada. Jika laga ini berakhir seri maka Leicester hanya mengumpulkan 3 poin untuk menambah hasil akhir menjadi 62 poin. Hingga laga ke-35 ini Setan Merah memiliki 59 poin diperingkat 5. Jadwal United dalam 3 laga terakhir ini cukup diuntungkan.

Mereka hanya berhadapan dengan tim yang di atas kertas ada di bawah mereka. Kecuali Leicester yang mereka hadapai dalam laga pamungkas kompetisi pada Minggu (26/7/20) bisa saja berakhir seri. Dua laga lainnya, United bisa mengambil 6 poin penuh melawan Crystal Palace yang sudah aman dari degradasi dan West Ham United yang juga berpeluang lolos degradasi. Sehingga United berhasil mengumpulkan 7 poin untuk meraih total 66 poin diakhir klasemen.

Jika prediksi ini tepat maka yang berhak meraih tiket ke Liga Champions tahun depan adalah Chlesea dengan 66 poin disusul Manchester United juga dengan 66 poin. Sedangkan Leicester harus bersaing dengan Sheffield United, Wolves dan Tottenham meraih dua tiket Liga Eropa. Lawan terberat mereka adalah Chelsea dalam laga terakhir. Wolves maskimal bisa mengumpulkan 6 poin jika laga lawan Chelsea kalah. Total poin hingga akhir kompetisi menjadi 61 poin.

Berbekal dengan 54 poin, Sheffiled United bisa meraih 9 poin maksimal jika memenangkan 3 laga terakhir mereka sehingga total menjadi 63 poin. Tapi nanti dulu mereka harus berjumpa Leicester yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Dua laga lagi adalah lawan Everton dan Southampton. Dua klub yang disebut terakhir ini juga memiliki kekuatan yang merata.

Namun paling tidak Sheffield United hanya kehilangan laga melawan Leicester dan meraih 6 poin dari dua laga lainnya sudah bagus. Sehingga mereka mengumpulkan 60 poin. Tim asuhan Jose Mourinho ini patut diwaspadai dengan semangat mereka pada laga-laga terakhir mereka. Saat ini dengan 52 poin, mereka tercecer diperingkat 8. Tiga lawan terakhir mereka adalah Newcastle United, Leicester dan Crystal Palace. Dari jadwal tersebut yang menarik ditunggu adalah laga melawan Leicester City. Dua laga lainnya diprediksi diraih pasukan London ini.

Jika saja mereka bermain imbang melawan Leicester maka Spurs menambah 7 poin untuk mengakhir komptisi dengan 59 poin. Jumlah poin ini belum cukup aman untuk tiket ke Liga Eropa sehingga Spurs harus all out memenangkan sisa tiga laga yang mereka hadapi. Dengan 9 poin Spurs mengumpulkan total 61 poin bisa bersaing dengan dua klub Wolve dan Sheffield United.

Dari prediksi tersebut maka urutan setelah Liverpool dan Manchester City yaitu Chelsea peringkat 3 dengan 66 poin, United peringkat 4 dengan 66 poin. Leicester peringkat 5 dengan 62 poin, Wolverhampton peringkat 6 dengan 61 poin, Hotspur peringkat 7 dengan 61 poin dan Sheffield United peringkat 8 dengan 60 poin. Sangat menarik ditunggu bagaimana hasil akhir Premier League dalam tiga laga terakhir kompetisi tahun 2020 ini.

Peringkat 1-4 berhak mengikuti kompetisi Liga Champions sedangkan peringkat 5-6 berhak mengikuti kompetisi Liga Eropa.

Pogba Beberkan Kenapa MU Makin Bagus

Pogba Beberkan Kenapa MU Makin Bagus – Gelandang Manchester United (MU) Paul Pogba membeberkan mengapa MU saat ini lebih baik. Diketahui, MU tak terkalahkan dalam 11 laga terakhir di ajang Liga Inggris. Terbaru, sekalipun mereka hanya bermain seri melawan Southampton, peluang MU untuk masuk empat besar masih sangat terbuka.

Pogba Beberkan Kenapa MU Makin Bagus

Pogba Beberkan Kenapa MU Makin Bagus

Pogba menilai bahwa MU saat ini adalah tim yang tepat. “Sebelumnya kami terkadang terlalu bertahan atau terlalu menyerang. Kami tidak memiliki keseimbangan, kami tidak memiliki kontrol diri,” ujar Pogba seperti diberitakan metro. Kini, kata Pogba, MU memiliki keseimbangan. MU mengetahui kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan. “Kami lebih terstruktur dan kami telah bekerja keras untuk sampai level ini,” katanya. Namun, dia mengatakan bahwa ini bukan level akhir MU.

Pogba mengatakan bahwa MU masih bisa berkembang. Menurutnya, ini adalah bagian perjalanan untuk MU lebih baik lagi di masa yang akan datang. Performa bagus MU akhir-akhir ini juga membuat Pogba yakin jika timnya akan mendapatkan trofi di akhir musim.

Saat ini, MU memiliki kesempatan untuk mendapatkan dua trofi. Trofi pertama yang bisa didapatkan adalah Piala FA, di mana MU sudah sampai semifinal dan akan melawan Chelsea pada 19 Juli waktu Inggris. Trofi kedua yang bisa didapatkan adalah trofi Liga Europa. Saat ini MU sudah sampai di babak 16 besar Liga Europa.

Di ajang Liga Europa, MU pun berpeluang besar lolos ke babak 8 besar. Sebab, pada babak 16 besar leg pertama, MU mampu mengalahkan LASK 5-0 di kandang lawan. Pada 5 Agustus waktu Inggris, MU akan menjamu LASK. Jika pun MU kalah dengan selisih empat gol di leg kedua, MU tetap akan lolos ke babak 8 besar.

4 Besar Masih Terbuka Di laga terbaru, MU gagal mengalahkan Southampton, Selasa (14/7/2020) dinihari WIB. Soton unggul lebih dahulu melalui Stuart Armstrong. Namun, MU mampu membalikkan keadaan melalui gol Rashford dan Martial.

Sayangnya, di menit 90, Soton mampu menyamakan kedudukan melalui gol Obafemi. Hasil seri ini membuat MU masih di posisi lima klasemen sementara. MU memiliki 69 poin dari 35 laga. Namun, peluang MU masuk 4 besar klasemen akhir untuk lolos ke Liga Champions musim depan masih terbuka. Syaratnya, MU mampu menyapu tiga laga sisa dengan kemenangan. Tiga tim yang akan menjadi lawan MU di tiga laga sisa adalah Crystal Palace, West Ham, dan Leicester.

Hitung-hitungan di atas kertas, hanya Leicester yang berpotensi mengganjal MU. Apalagi Leicester juga memiliki peluang lolos ke Liga Champions musim depan. Tapi, ini juga menjadi kesempatan bagi MU bahwa mereka sudah bangkit dan ingin kembali ke era keemasan.

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara – Jose Mourinho merasakan kemenangan pertamanya dalam derby London Utara ketika Tottenham Hotspur bangkit dari ketinggalan untuk mengalahkan Arsenal. Mereka bermain di Stadion Tottenham Hotspur London dalam lanjutan laga Premier League yang ke-35. Sundulan Toby Alderweireld hanya 9 menit sebelum laga berakhir mengklaim tiga poin penting bagi Spurs untuk peluang bersaing memperebutkan salah satu jatah Liga Eropa.

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Mourinho tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika usai laga tersebut berkata seperti dilansir. Kami membuat para penggemar senang, kami bahagia karena kami masih dalam perjuangan untuk memenangkan posisi Liga Eropa. Hasil ini juga membuat Manajer adal Portugal itu tidak pernah kalah dalam pertandingan kandang melawan Arsenal selama karirnya di Liga Inggris.

Dari 10 laga yang pernah dijalani, Mourinho memenangkan laga enam kali dan seri empat kali. Tottenham sendiri sudah memenangkan 4 laga dan dua laga berakhir imbang. Tidak terkalahkan dalam enam pertandingan liga di kandang mereka secara berturut-turut melawan Arsenal.

Kemenangan ini juga untuk pertama kalinya sejak Januari 1968 dengan meraih sembilan pertandingan tidak kalah mekawan Arsenal. Sementara itu Mikel Arteta adalah manajer Arsenal pertama yang kehilangan derby London Utara pertamanya di Liga Premier sejak Bruce Rioch pada November 1995.

Kemenangan itu mengangkat Spurs menggeser Arsenal di klasemen Premier League pada posisi ke-8 dengan 52 poin. Arsenal turun ke posisi sembilan dengan 50 poin, terpaut dua poin dari rival mereka dengan tiga pertandingan tersisa. Mikel Arteta mengakui kekalahan Arsenal 1-2 dari Tottenham merupakan pukulan besar bagi The Gunners karena mereka hanya tinggal menyisakan 3 laga sisa.

Salah satu laga dari tiga yang harus dijalani Arsenal adalah melawan Liverpool yang dianggap laga terberat yang harus dijalani. Alexandre Lacazette telah memberikan Arsenal memimpin pada awal laga hanya 16 menit sejak kick off dengan mencetak gol untuk keunggulan 1-0. Tetapi sebuah blunder pemain belakang The Gunners, Sead Kolasinac yang memberikan back pass terlalu lemah kepada David Luiz, berhasil direbut Heung-Min Son.

Pemain Korea Selatan ini dengan mudah menembakan bola ke gawang Arsenal yang dikawal Martinez. Pierre-Emerick Aubameyang hampir saja mengguncang gawang Spurs untuk keunggulan Arsenal. Auba membuka peluang untuk mengembalikan keunggulan mereka sebelum akirnya Alderweireld menjadi penentu kemenangan.

Spurs menemukan cara ketika Mourinho memperpanjang rekor tak terkalahkan di Premier League melawan The Gunners menjadi 10 pertandingan. Kekalahan Arsenal ini membuat klub dengan julukan Gunners berada di urutan kesembilan dengan tiga pertandingan tersisa.

Terpaut empat poin dari Sheffield United yang berada di urutan ketujuh di tempat kualifikasi terakhir Eropa. Mereka masih bisa bersaing meraih target 6 besar. Arteta mengakui dengan jujur bahwa dia melihat apa yang dilakukan Mourinho berhasil memangkan derby ini lagi.

Menurut Arteta, ini dua gaya yang sangat berbeda. Mourinho mengelola taktik dengan sangat baik dengan memiliki tim yang bagus di lini belakangnya. Karakter sepakbolanya selalu menemukan cara untuk memenangkan sebuah laga. Tiga laga sisa Arsenal adalah melawan Liverpool (16 Juli), lawan Aston Villa (22 Juli) dan lawan Watford (26 Juli).

Sedangkan jadwal Tottenham yaitu lawan Newcastle United (16 Juli), lawan Leicester (19/7/20) dan lawan Crystal Palace (26 Juli). Mereka menghadapi lawan kuat yaitu Arsenal berhadapan dengan Liverpool dan Tottenham menghadapi Leicester. Pada 3 laga sisa tersebut, Jose Mourinho dan Tottenham Hotspur serta Mikel Arteta dan Arsenal harus tetap berjuang meraih posisi di zona Liga Eropa.

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang – Tak terasa perjalanan Liga Italia Serie A telah memasuki waktu-waktu krusial di penghujung musim. Ketatnya persaingan begitu terasa hingga pekan ke 31 menuju ke 32. Terlihat bahwa tim-tim peringkat 9 hingga 5 begitu ngotot memperebutkan tiket ke Europa League musim depan dan juga tim di zona degradasi yang perlahan bangkit keluar ke titik aman.

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Persaingan di empat besar pun sebenarnya juga masih terpantau baik meskipun tak semenarik tim-tim dibawahnya dan diprediksi tidak akan berubah komposisi timnya mulai dari Juventus, Lazio, Atalanta, dan Inter. Bisa dibilang Tiket Liga Championss sudah 60% tersegel oleh keempat nya mengingat rentang jarak tim peringkat 5 dan 4 yang berbeda 11 poin per pagi tadi.

Walhasil persaingan di empat besar lebih dikhususkan untuk merebut gelar juara liga yang hampir se-dasawarsa dikuasai oleh Si Nyonya Tua. Dan dilanjutan pekan ke 32 Serie A yang digelar kemarin malam dan dinihari tadi waktu Indonesia, Lazio, Atalanta, dan Juventus kembali mentas dengan kekuatan terbaiknya.

Di Stadion Olimpico Kota Roma, Tim ibukota besutan Simone Inzaghi ditantang oleh Sassuolo yang ada di peringkat 8 dan masih sangat berpeluang untuk menembus Zona Eropa. Ciro Immobile dan Luis Alberto dimainkan di laga ini, bahkan nama terakhir mencetak gol pembuka untuk keunggulan Lazio.

Namun di babak kedua, Sassuolo bangkit dan mencetak dua gol yang membalikkan keadaan oleh Raspadori dan Caputo di menit akhir pertandingan. Hasil ini menjadi kekalahan ketiga beruntun I Biancocelesti dan memperlebar jarak dengan si nyonya tua menjadi 7 poin. Hal yang cukup disayangkan sebenarnya mengingat sebelum pandemi Lazio digadang-gadang menjadi penantang terkuat Juventus dalam perburuan gelar ketika performa Inter yang kala itu naik turun.

Berselang beberapa jam kemudian, laga seru antara sang Capolista, Juventus menghadapi Tim peringkat tiga, Atalanta pun dihelat di Turin. Alih-alih mencetak gol cepat untuk memastikan jarak aman dengan Lazio, tim tuan rumah justru ketinggalan lebih dulu lewat sontekan Duvan Zapata menerima assist dari Papu Gomez.

Di babak pertama permainan bola memang lebih didominasi Atalanta sedangkan Juventus mencoba bemain lebih efektif. Di babak kedua, Juventus mulai lebih banyak menggencarkan serangan dan mencoba membuka pertahanan ketat atalanta lewat umpan silang dan tendangan spekulatif.

Usaha Juventus akhirnya berhasil dengan ditunjuknya penalti oleh wasit atas handsball Marten De Roon. Eksekusi Cr7 pun tak mampu dihadang Kiper Atalanta. Di menit ke 80, Atalanta kembali unggul lewat screamer ruslan malinovskiy yang merobek jala sczcesny untuk kali kedua.

Selepas momen tersebut, Juventus berusaha untuk bisa menyamakan kedudukan dan harapan Atalanta untuk menang 10 kali beruntun pun buyar seketika tatkala dengan pola yang sama si nyonya tua berhasil mendapatan penalti yang kedua, kali ini giliran Luis Muriel yang kedapatan handsball.

Ronaldo pun tak menyiakan kesempatan eksekusi di titik 12 pas. Hingga akhir laga skor berakhir 2-2. Dengan hasil ini Juventus tetap nyaman di singgasana dengan keunggulan 8 poin dari Lazio, sedangkan Atalanta gagal menyalip Lazio di peringakat kedua.

Di lain sisi Inter yang baru bermain pekan depan menghadapi Torino, masih berpeluang menyalip Atalanta jika memenangkan laga di Meazza selasa dinihari waktu Indonesia.

Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Juventus akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya – Kompetisi Serie A sempat terhenti selama kurang lebih tiga bulan akibat mengganasnya pandemi Covid-19 di Italia. Negeri pizza itu memang merupakan salah satu negara Eropa yang paling terdampak oieh pandemi Covid-19. Tercatat lebih dari 30 ribu orang di Italia meninggal akibat virus Corona (Covid-19). Sebelum kompetisi Serie A dihentikan sementara akibat adanya pandemi Covid-19 itu, pertandingan yang telah diselesaikan antara 25-26 partai. Artinya kompetisi Serie A menyisakan 12-13 partai lagi.

Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Setelah pandemi Covid-19 mereda dan situasi memasuki era new normal, kompetisi Serie A bergulir kembali mulai tanggal 22 Juni 2020. Tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya setiap pertandingan tidak boleh dihadiri oleh penonton. Sampai saat ini selama era new normal, Serie A telah menyelesaikan 5-6 partai sisa. Tim-tim besar seperti Juventus, Lazio, Atalanta, dan Inter Milan masih leading di papan atas klasemen.

Bahkan bagi Atalanta, lanjutan kompetisi Serie A dalam era new normal ini mungkin merupakan berkah tersendiri. Hal itu dikarenakan dalam enam pertandingan yang telah dimainkan, Atalanta meraih kemenangan seratus persen. Artinya dalam setiap laga Atalanta selalu menang.

Hebatnya lagi, beberapa tim yang dikalahkan oleh Atalanta adalah tim penghuni papan atas klasemen. Lazio yang berada di posisi dua klasemen di bawah Juventus dihajar Atalanta dengan skor 3-2. Korban berikutnya Napoli, disikat Atalanta dengan dua gol tanpa balas.

Tim lain yang dikalahkan oleh Atalanta adalah Sassuolo di partai perdana pasca pandemi Covid-19 pada tanggal 22 Juni 2020 dengan skor telak 4-1. Kemudian Udinese dengan skor 3-2, Cagliari dengan skor 1-0, dan terakhir Sampdoria dengan skor 2-0. Pertandingan selanjutnya akan sangat seru dan menarik. Mengingat Atalanta akan berhadapan dengan pemuncak klasemen sementara Si Nyonya Tua Juventus pada tanggal 12 Juli mendatang.

Atau sebaliknya Atalanta akan menelan kekalahan pertama pada sisa kompetisi pasca pandemi Covid-19 ? Big match yang sangat menarik untuk disaksikan. Secara head to head dengan Juventus di Serie A, Atalanta memang masih kalah jauh dari Juventus. Tercatat dari 109 kali bentrok dengan Juventus, Atalanta hanya menang 11 kali dan kalah 63, selebihnya seri.

Apakah Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Dalam lima pertemuan terakhir dengan Juventus pun, Atalanta masih berada di bawah Juventus. Atalanta hanya satu kali menang, dua kali seri, dan dua kali kalah. Akan tetapi Atalanta saat ini sedang berada dalam kepercayaan diri tinggi. Apalagi kalau bukan rekor kemenangan seratus persen dalam laga yang telah dimainkan di era new normal. Terlebih lagi, Atalanta tidak pernah kalah dalam sepuluh pertandingan terakhir di Serie A. Hanya satu kali seri dan sisanya semua dimenangkan Atalanta.

Sementara Juventus sebaliknya. Mental Juventus sedang agak down. Pasalnya, dalam pertandingan terakhir tanggal 8 Juli lalu Juventus dikalahkan AC Milan dengan skor cukup telak , 2-4. Walau pun begitu, tentu saja Si Nyonya Tua tak akan mudah untuk dikalahkan. Juventus akan melakukan perlawanan sengit terhadap Atalanta. Sebab kalau sampai kalah dari Atalanta, Juventus berpotensi kehilangan posisi pemuncak klasemen sementara sebab Lazio yang berada di posisi kedua siap mengkudeta.

Bagi Atalanta, meraih kemenangan dari Juventus merupakan hal yang sangat penting. Selain untuk menjaga trend positif kemenangan seratus persen, juga demi memelihara posisi di zona Liga Champions. Di samping itu pula, mengalahkan Juventus akan menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Atalanta.

Secara statistik gol, dari enam pertandingan terakhir yang telah dimainkan di Era New Normal, Atalanta telah mencetak sebanyak 15 (lima belas) gol dan hanya kemasukan 5 (lima) gol saja. Tak berbeda dengan Atalanta, Juventus pun sama dengan Atalanta telah mencetak sebanyak 15 (lima belas) gol tetapi kemasukan lebih banyak gol, yakni 6 (enam) gol.

Statistik Gol Antara Atalanta Dan Juventus Terlihat Cukup Berimbang

Perbedaannya hanyalah dalam jumlah pertandingan yang telah dimainkan dan jumlah kemenangan. Atalanta telah memainkan enam pertandingan, sedangkan Juventus baru memainkan lima pertandingan. Kemudian Atalanta selalu menang tak pernah kalah, sedangkan Juventus pernah mengalami satu kekalahan dalam pertandingan terakhir kala berhadapan dengan AC Milan.

Kedua tim berpeluang untuk saling mengalahkan. Bisa jadi Atalanta yang menang, tapi mungkin juga Juventus yang menang. Akan tetapi jika melihat statistik gol dan pertandingan, hasil seri mungkin cukup adil bagi kedua tim.

Performa Atalanta tahun ini memang cukup luar biasa. Selain tetap berada di posisi zona Liga Champions dalam klasemen sementara dan menorehkan kemenangan seratus persen dalam enam pertandingan Serie A pasca pandemi Covid-19, Atalanta juga mencatatkan diri menjadi satu-satunya tim dari Italia yang berhasil melaju ke Babak perempat final Liga Champions.

Selain Atalanta memang masih ada tim Italia lain, Juventus yang masih bertahan di 16 besar. Hanya saja kans Juventus untuk melaju ke babak perempat final tidak terlalu besar, mengingat pada leg pertama Juventus kalah 0-1 dari Lyon. Berarti jika ingin mendapatkan tiket ke babak perempat final seperti Atalanta, Juventus harus bisa mengalahkan Lyon pada tanggal 8 Agustus nanti (leg kedua tunda karena pandemi Covid-19) paling tidak dua gol tanpa balas.

Bukan tidak mungkin jika Atalanta bisa melangkah lebih jauh lagi di Liga Champions. Tidak hanya sampai perempat final, tapi juga semi final, final, bahkan tidak mustahil menjadi juara Liga Champions.

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal – Penikmat sepak bola nasional yang berbasis di Bandung dan Jawa Barat sempat dibuat bangga dua kali berturut-turut kala Liga Indonesia (Ligina) yang merupakan wajah baru dari kompetisi perserikatan digulirkan. Pada Ligina edisi pertama tahun 1994/95, Persib Bandung berhasil meraih gelar juara. Berselang setahun, giliran Peri Sandria cs yang membawa trofi Ligina edisi ke-II mendarat di Bandung bersama klub yang dibelanya, Mastrans Bandung Raya (MBR).

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Bagi Persib, gelar juara Ligina I 1994/95 bukanlah yang pertama. Mereka punya beberapa koleksi trofi Liga yang tersimpan di lemarinya yakni tahun 1937, 1959-1961, 1986, 1989-1990, dan 1993-1994. Pada musim 1994, kompetisi di Indonesia kemudian digabung antara Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia.

Sistemnya pun ikut berubah, termasuk pada musim itu jadi awal pintu masuk bagi para legiun asing. Namun menariknya, trofi Ligina I sukses digondol Maung Bandung tanpa legiun asing. Bukan karena manajemen Persib tak memfasilitasi atau melarang perekrutan pemain asing, melainkan karena kepercayaan sang pelatih, Indra Tohir, kepada putra daerah yang membuat Persib kemudian berjaya bersama produk lokalnya.

Pelatih yang akrab disapa Abah Tohir itu mengklaim bila timnya tak membutuhkan pemain asing mengingat betapa melimpahnya talenta lokal yang mereka miliki. Bahkan hal itu telah mereka manfaatkan di musim-musim sebelumnya. Persib sejak 1993 tinggal maintanance saja. Karena kualitas tekniknya masih mumpuni dan terjaga sejak 1982 tidak putus gunakan talenta lokal terbaik. Secara fisik pun mereka masih mampu bersaing dua musim ke depan. Itu kenapa saya tidak memakai servis pemain asing,” demikian kata Abah Tohir. Seperti dinukil dari Skor Indonesia.

Bah Tohir juga melihat keuntungan dari segi finansial bagi klubnya jika dirinya tidak mengambil opsi perekrutan pemain asing. Sebab para legiun asing sendiri sistem pemberian upahnya berbeda dengan pemain lokal. “Pemain asing kan harus dikontrak dan digaji. Sementara pemain lokal tidak dikontrak dan digaji. Mereka hanya dapat uang pertandingan,” tegas dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu pemain Persib 1994/95, Yadi Mulyadi, ketika banyak klub mendatangkan legiun asing Grade A seperti Roger Milla yang merupakan pemain jebolan Piala Dunia atau Dejan Gluscevic yang pernah membela Timnas Kroasia level junior, para pemain Persib musim itu justru termotivasi untuk membuktikan bahwa kualitas pemain lokal pun tak kalah dari mereka.

Di Liga Indonesia pertama, kami tanpa pemain asing. Itu jadi motivasi terbesar kami untuk membuktikan, pemain lokal juga bisa memberikan prestasi,” pekik Yadi. Seperti dinukil dari SuperBall. Bagi mantan Persib yang kini mengasuh Persib U-20 itu, skuad Persib era Perserikatan 1993/94 yang juga meraih trofi juara tak bisa ditampik mempunyai dampak besar bagi Persib dalam mencatatkan sejarah fenomenal tersebut.

Memang antara perserikatan dan Liga [Ligina] pertama punya sistem berbeda. Tetapi label juara Perserikatan juga modal dan kami tidak melakukan perubahan. Jadi pemain sudah saling mengetahui kemauan masing-masing, pungkasnya. Meskipun keluar sebagai yang terbaik. Bukan berarti Persib tanpa batu sandungan jelang mengangkat piala di Senayan pada 30 Juli 1995 itu. Pada laga perdana misalnya, mereka takluk dari Pelita Jaya Jakarta 0-1.

Sejak saat itu, Persib mulai berbenah. Hasilnya terlihat saat Yusuf Bachtiar cs merebut tiket 8 besar. Bersama Pelita Jaya, Bandung Raya, dan Medan Jaya, Persib mewakili tim terbaik di wilayah barat. Sementara tim-tim yang lolos di wilayah timur adalah Petrokimia Putra Gresik, Pupuk Kaltim Bontang, Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), dan Barito Putra.

Dari delapan finalis itu pula Persib menjadi satu-satunya delegasi dari klub eks Perserikatan. Pada babak 8 besar Persib tergabung di Grup B bersama Medan Jaya (peringkat keempat wilayah barat), Petrokimia Gresik (juara wilayah timur), dan ASGS (peringkat ketiga wilayah timur).

Anwar Sanusi cs lolos dengan status jawara grup B sedangkan Barito Putra sebagai runner-up grup A telah menanti di semifinal, 28 Juli 1995. Pada pertandingan yang berlangsung alot itu, para penggawa Persib sempat dibuat frustasi oleh sulitnya menjebol gawang Barito yang dijaga oleh Abdillah.
Konon, pemain Persib sempat terheran-heran dengan kejadian aneh tersebut. Beberapa pemain yang gagal mencetak gol sempat melakukan hal seperti menggoyang-goyang jaring gawang sampai membuang ludah di dalam gawang lawan.

Hal klenik terendus oleh Sutiono Lamso pada pertengahan babak kedua, Ia menemukan sebutir telur tergeletak di dekat gawang yang dijaga oleh kiper yang berkepala pelontos itu. Menyikapi hal itu, Sutiono langsung memecahkan telur tersebut. Abdillah yang melihat aksi itu sempat geram.

Tak berlangsung lama setelah Sutiono memecahkan telur, Persib berhasil mencetak gol lewat Kekey Zakaria di menit ke-80. Gol pemain asal Subang itu menjadi gol tunggal yang membekali Persib ke Stadion Utama Senayan, Jakarta, untuk melakoni partai final. Petrokimia Gresik yang pada laga semifinal lain berhasil membekuk Pupuk Kaltim dengan skor yang sama, 1-0, melalui gol Widodo Cahyono Putro, jadi lawan Persib di Senayan.

Anwar Sanusi, Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso merupakan 11 pertama Persib yang bertarung di final. Dengan skuad itu pula, Persib berhasil menyudahi perlawanan sengit Petrokimia lewat gol Sutiono Lamso di menit ke-76.

Bagi Sutiono, gol tunggalnya di partai final Ligina I 1994/95 ini melengkapi 21 golnya yang Ia cetak musim itu. Meski begitu, tak ada satu pun pemain Persib yang berhasil meraih titel individu musim itu. Gelar pencetak gol terbanyak diraih oleh Peri Sandria dengan 34 gol bersama Bandung Raya sementara Widodo Cahyono Putro dinobatkan sebagai pemain terbaik musim itu.