Persebaya Meluncurkan Jersey Edisi Ulang Tahun, Telah Terjual 1.200

Β Surabaya – Persebaya Surabaya dengan cara sah mengeluarkan jersey baru spesial untuk edisi ulang tahun ke-93. Seragam edisi ulang tahun ini telah jadi rutinitas buat Persebaya semasa beberapa musim paling akhir.

Tahun kemarin, mereka meluncurkan jersey memiliki nuansa Arab dengan memakai huruf hijaiyah untuk menulis kata “Persebaya”. Kesempatan ini, mereka pilih topik “Wani Musuh COVID-19” mengingat sekarang ini epidemi Corona masih berjalan.

Jersey itu ambil warna hijau dengan bebatan corak kuning. Dibagian lengan ditambah lagi simbol tertulis “Wani Musuh COVID-19”.

“Jersey Anniversary Persebaya ke 93 ini memakai topik besar Wani Musuh COVID-19. Jersey ini untuk bentuk kebersamaan kami berkaitan epidemi COVID-19 saat ini,” kata Arizal Pertama, Manager Senior Persebaya Store.

“Khususnya tenaga kesehatan yang sedang berusaha di garda paling depan. Disamping itu kelak kami akan memberi sumbangan beberapa hasil pemasaran pada beberapa tenaga kesehatan yang sudah berusaha sejauh ini,” paparnya.

Pemasaran jersey ini telah diawali semenjak Sabtu pagi (20/6/2020) jam 09.00 WIB lewat situs situs Persebaya Store. Untuk step pertama, Persebaya Store jual 1200 pcs. Tidak perlu waktu lama, Jersey itu langsung dicari oleh fans Persebaya.

“Ketertarikan Bonek (supporter Persebaya) benar-benar sangat mengagumkan. Diawalnya kami telah sediakan paket 1.000, tetapi sesudah 2,5 jam telah mulai habis,” sebut Arizal.

“Pada akhirnya kami bekerjasama kembali lagi dengan produksi, ditetapkan meningkatkan paket 200, jadi keseluruhan 1.200. Serta, itu juga sesudah 3,5 jam telah habis,” tambah pria alumnus ITS Surabaya itu.

Mulai Dikirim Akhir Juli

Semua jersey yang terjual ini direncanakan akan memulai dikirim di akhir bulan Juli 2020. Ini karena kurangnya proses pengerjaan jersey ditengah-tengah epidemi COVID-19.

“Untuk proses pengerjaan memang perlu kerja yang benar-benar tambahan sebab kekurangan saat epidemi COVID ini. Tetapi konsep kami, kreasi serta pengembangan jangan stop, walau kondisinya susah,” tutup Arizal.

Peminat Meluap, Persebaya Memperpanjang Festival Berbelanja

Surabaya – Ketertarikan warga ikuti acara Green Force Shopping Festival (GFSF) besar sekali. Acara festival berbelanja yang diselenggarakan oleh manajemen Persebaya itu sedianya diadakan pada 17-19 Juni 2020 untuk peringatan ulang tahun club yang ke-93.

Atas fundamen besarnya keinginan, faksi Persebaya Store putuskan untuk perpanjang festival berbelanja yang diadakan dengan cara daring itu. Tidak main-main, mereka mengadakan sampai pada 30 Juni 2020.

“Kami coba berkomunikasi dengan semua merek yang tercatat, tentang tanggapan dari moment GFSF, serta hasilnya benar-benar baik. Lalu ada ada dialog berkaitan penerapan momentnya, selanjutnya sebagian besar merchant menginginkan untuk GFSF diperpanjang,” papar Arizal Pertama, Manager Senior Persebaya Store.

Ketetapan ini diambil sebab banyak ada keinginan untuk selalu membuat jadwal itu. Dari survey daring yang diadakan melalui account @persebayastore, sekitar 97% ingin GFSF diperpanjang.

“Mudah-mudahan dengan diperpanjang ini, makin banyak warga yang berperan serta di GFSF. Terdapat beberapa penawaran menarik yang benar-benar saya ditinggalkan,” tambah pria lulusan ITS Surabaya itu.

Beberapa faksi terjebak dalam acara ini. Tertera Persik Kediri serta Bali United turut memeriahkan GFSF. Disamping itu, masih ada Persekat Tegal (Liga 2) serta Persiku Kudus (Liga 3). Semua berpeluang untuk jual produk merchandise semasing.

Manajemen Persebaya memang tidak membuat acara ini dalam satu tempat serta tatap muka bertemu muka. Semua transaksi pemasaran dilaksanakan dengan cara daring lewat situs greenforceshopfest.com.

Ini dilaksanakan mengingat epidemi COVID-19 yang belum juga selesai sampai saat ini. Serta, Surabaya mempunyai angka masalah corona yang lumayan tinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

UMKM


Kecuali tim-tim itu, beberapa merek usaha mikro kecil menangan (UMKM) berperan serta Umumnya adalah merek lokal Jawa Timur yang jual beberapa produk olahraga serta fashion.

Persebaya tidak memungut ongkos pada brand-brand peserta festival ini. Mereka justru memberikan peluang untuk menempatkan harga dengan diskon atau promosi semasing supaya produknya ikut juga terjual.

Walau agendanya diperpanjang, Persebaya Store tidak mempunyai niatan untuk meningkatkan mitra merchant. Official store punya Persebaya itu ingin konsentrasi pada 40 merchant yang telah tercatat awalnya.

Dalam festival ini, Persebaya Store serta merek lain tawarkan beberapa jenis diskon untuk produk yang mereka jual. Dari mulai kaus, jersey, sampai perlengkapan olahraga lain masuk ke produk itu.

“Promosi merchant diberikan pada semasing merchant, sesuai kreativitas semasing, tidak ada batasan dari kami,” papar Arizal.

Parade Perkataan Selamat Ulang Tahun ke-93 Persebaya di Media Sosial

Jakarta – Tanggal 18 Juni 2020 ini, Persebaya Surabayamerayakan ulang tahunnya yang ke 93. Walau ditengah-tengah hantaman epidemi virus corona COVID-19, peristiwa istimewa itu masih dirayakan.

Tetapi, peristiwa itu sangat terpaksa dirayakan dengan patuhi physical distancing seperti saran pemerintah. Topik #KAN93N menyengaja diambil pada ulang tahun kesempatan ini.

Dikatakan Fans Relation Manajer Persebaya, Sidik Tualeka, topik ini menyengaja diambil sesudah lihat kondisi dan situasi yang ada. Semua stakeholder Persebaya sekarang ini sedang rindu berat.

Rindu berlaga, rindu berlatih, rindu mbonek, serta rindu untuk sebatas berjumpa keluarga besar Persebaya.

Di umur yang ke-93 ini, Pelatih Persebaya Surabaya Aji Santoso ikut memberi perkataan berkualitas. Ia mengharap Bajul Ijo dapat semakin sukses nantinya.

“Selamat ulang tahun buat team terkasih, Persebaya Surabaya ke-93. Mudah-mudahan kedepan makin sukses, lebih berprestasi,” kata Aji, Kamis (18/3/2020).

Setelah itu, Aji Santoso itu memberi pesan pada supporter setia Persebaya Surabaya atau Bonek supaya nantinya dapat semakin solid dalam memberikan dukungan club yang bertempat di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) ini.

Kedatangan supporter jadi hal yang tidak dapat dipisahkan dalam team. Di mana saja Persebaya berlaga, tetap ada Bonek serta Bonita memberi suport.

“Mudah-mudahan Bonek serta Bonita makin solid, makin kreatif serta makin dewasa dalam memberikan dukungan team kebanggaan warga Surabaya, dimana saja ada,” tutur Aji.

Tentunya di hari ini Persebaya banjir perkataan ulang tahun di sosial media dari aktor sepak bola nasional. Yuk, baca beberapa videonya berikut ini.

Jacksen Tiago (Pelatih Persipura)

Azrul Ananda (Presiden Persebaya)

Mochamad Iriawan (Ketua Umum PSSI)

Ari Lasso (Musisi)

Hansamu Yama (Pemain Persebaya)

5 Pemain Hebat Memiliki label Legenda yang Dilahirkan Persebaya di Masa Liga Indonesia

Jakarta – Ada deretan pemain hebat dibalik kemasyhuran satu team. Tidak kecuali yang berlangsung di Persebaya Surabaya. Semenjak masa Perserikatan sampai Liga Indonesia, Persebaya tetap mempunyai pemain tersohor di Tanah Air.

Persebaya dibangun oleh M. Pamoedji pada 18 Jun 1927. Pada awal berdirinya, Persebaya namanya Soerabajasche Indische Voetbal Bond (SIVB).

Pada tanggal 19 April 1930, SIVB dengan VIJ Jakarta, BIVB Bandung (saat ini Persib Bandung), MIVB (saat ini PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Tepat Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) ikut membidani kelahiran Persatuan Sepak bola Semua Indonesia (PSSI) dalam tatap muka yang diselenggarakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. SIVB dalam tatap muka itu diwakilkan oleh M. Pamoedji.

Satu tahun selanjutnya pertandingan tahunan antar kota atau yang disebutkan kejuaraan nasional perserikatan diadakan. SIVB sukses masuk final pertandingan perserikatan di tahun 1938 walau kalah dari VIJ Jakarta.

Saat Belanda kalah dari Jepang pada 1942, prestasi SIVB yang sebagian besar pemainnya ialah pemain pribumi serta sejumlah kecil turunan Tionghoa melesat serta kembali lagi capai final sebelum ditaklukkan oleh Tepat Solo. Pada akhirnya di tahun 1943 SIVB bertukar nama jadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja).

Pada masa ini Persibaja dipimpin oleh Dr. Soewandi. Saat itu, Persibaja sukses mendapatkan titel juara di tahun 1951 serta 1952.

Tahun 1959, nama Persibaja dirubah jadi Persebaya (Persatuan Sepak Bola Surabaya). Pada masa perserikatan ini, prestasi Persebaya spesial.

Persebaya salah satu raksasa perserikatan kecuali PSMS Medan, PSM Makassar, Persib Bandung atau Persija Jakarta. 2x Persebaya jadi jawara di tahun 1978 serta 1988, serta 5 kali menempati rangking ke-2 di tahun 1965, 1971, 1973, 1987, serta 1990.

Prestasi cemerlang terus terbangun saat PSSI menjadikan satu club Perserikatan serta Galatama dalam pertandingan karieronal bertopik Liga Indonesia semenjak 1994. Persebaya merampas titel juara Liga Indonesia di tahun 1996-97.

Serta Persebaya sukses cetak riwayat untuk team pertama yang 2x jadi juara Liga Indonesia saat di tahun 2004 Green Force kembali lagi merampas titel juara.

Walau berpredikat untuk team classic penuh titel juara, Green Force sempat juga merasai pahitnya terdegradasi di tahun 2002 kemarin. Pil pahit langsung ditebus dengan gelar titel juara Seksi I serta Seksi Penting pada dua musim setelah itu.

Pada perjalanananya Team Bajul Ijo sudah melahirkan beberapa pemain hebat yang memberi warna dunia persepak bolaan Tanah Air.

Dari banyak sekali nama yang ada, ada lima pemain yang patut dikatakan sebagai legenda. Berdasar paramater spesifik, mereka yang wajar disebutkan legenda Persebaya ialah Mustaqim, Yusuf Ekodono, Jacksen F. Tiago, Carlos de Melo, serta Bejo Sugiantoro. Ke-5 pemain itu sempat jadi sisi dari waktu jaya Persebaya di persepakbolaan nasional di masa Liga Indonesia.

Salah satunya patokan yang membuat mereka patut disebutkan legenda ialah bila ada pemain muda berbakat tampil di Persebaya, publik Surabaya tetap memperbandingkannya dengan ke-5 figur itu.

Serta sampai saat ini mereka tetap jadi tolok ukur buat pelatih di Surabaya, waktu mengambil pemain di tempat yang sempat mereka menempati. Yuk, baca narasi mereka bersama-sama Team Bajul Ijo.

Mustaqim

Pencinta sepak bola Surabaya tidak pernah lupa dengan Mustaqim. Penyerang haus gol kelahiran Surabaya 6 September 1964 ini sempat jadi pujaan masyarakat Surabaya sebab perform apiknya semasa menguatkan team berjuluk Bajul Ijo di periode 1985-1988.

Duetnya bersama-sama Syamsul Bijakin saat itu benar-benar ditakuti musuh. Bila kedua-duanya berada di kotak penalti, peluang sekecil apa saja dapat diubah menghasilkan gol. Mustaqim bukan hanya tajam waktu menyelesaikan kesempatan, dan juga tindakan individunya sering membuat pemain belakang kewalahan mengawasinya.

Mustaqim punyai peran besar atas deretan prestasi yang diraih Persebaya. Salah satunya titel juara paling fantastis ialah Perserikatan 1987-1988. Disamping itu ada pula piala Piala Tugu Muda, Piala Persija, serta Piala Hamengkubuwono.

Selesai mengantar Persebaya juara Perserikatan pada musim itu, Mustaqim pindah ke Petrokimia Gresik pada musim 1989-1990. Tapi, cuma bertahan satu musim, Mustaqim pulang kampung dengan menguatkan Assyabaab mulai 1990-1991.

Di team itu Mustaqim menahbiskan dianya untuk pembuat gol paling banyak Seksi I. Tidak senang cuma mendapatkan gelar individu, Mustaqim keluar ke Partner Surabaya yang diperkokohnya semasa empat tahun sampai 1994.

Semasa empat tahun bertahan di satu club membuat Mustaqim ingin memperoleh rintangan baru. Itu kenapa dia kembali lagi masuk dengan Assyabaab yang kesempatan ini menggandeng Salim Grup Surabaya, hingga namanya jadi Assyabab Salim Grup Surabaya atau ASGS. 2 tahun bersama-sama ASGS, Mustaqim pensiun serta banting setir jadi pelatih.

Semasa meniti karier untuk pemain, panggilan dari pelatih Tim nasional Indonesia sering didapatkan. Prestasi terbaik saat bersama-sama Team Garuda mendapatkan medali perunggu SEA Games 1989 Kuala Lumpur.

Yusuf Ekodono

Yusuf Ekodono adalah satu diantara demikian beberapa pemain berbakat yang sempat dilahirkan di Bumi Surabaya. Bakatnya serta mendapatkan pernyataan semakin banyak dari publik sepak bola nasional dibanding dari Kota Pahlawan. Ini tidak terlepas dari kekuatan individu yang dipunyainya. Keunikan dari Yusuf Ekodono ialah keberaniannya lakukan penetratif di kotak penalti musuh.

Karena kelebihan itu Yusuf sering jadi target pelanggaran pemain belakang. Tetapi bukti itu tidak membuat ciut, dia justru terus melakukan hingga tidak dapat cetak gol dengan proses yang indah.

“Gerakannya susah ditebak. Dapat melalui satu sampai tiga pemain sekaligus juga. Sering dapat memperdayai penjaga gawang,” tutur Putut Widjanarko, bekas rekanan satu team Yusuf Ekodono.

Bekas pemain ini mengawali profesi sepak bolanya dari club internal Persebaya: Indonesia Muda. Dari sana Yusuf diketemukan pemandu talenta Persebaya. Kematangan bermain di umur yang relatif muda, membuat ayah dari pemain Surabaya United, Fandi Eko Utomo, ini dipropagandakan ke Persebaya junior pada 1985.

Masuk dengan team sebesar Persebaya membuat mutunya semakin terasah. Tidaklah heran satu tahun selanjutnya langsung promo ke Persebaya senior. Yusuf juga jadi sisi dari scuad Persebaya waktu jadi runner-up Perserikatan 1986-1987 serta juara Perserikatan 1987-1988. Tapi, waktu itu Yusuf masih semakin banyak jadi pemain pengganti.

Dari sana semangat Yusuf menggeser tempat senior terus berkobar-kobar. Penyerang penting Mustaqim yang keluar ke Assyabaab pada 1989, tidak disia-siakan Yusuf. Perform optimal terus diperlihatkannya sampai membuat pelatih Persebaya memberikan peluang bermain di team senior semakin banyak.

Serta pelatih Tim nasional Indonesia di SEA Games 1991, Anthony Polosin, masukkan namanya ke scuad ke Manila. Tidak percuma, Yusuf berperanan besar atas sukses tim nasional Indonesia mendapatkan medali emas SEA Games 1991, yang di laga final menaklukkan Thailand melalui beradu penalti, score 4-3.

Pada musim 1995-1996 Yusuf Ekodono selanjutnya pindah ke PSM Makassar. Di team barunya dia terus menjaga perform apiknya. Tetapi cuma bertahan satu musim, Yusuf kembali pada Persebaya. Ketetapannya termasuk pas sebab langsung turut peran Persebaya mendapatkan titel juara Liga Indonesia.

Selesai mengantar Persebaya juara Liga Indonesia 1996-1997, Yusuf masuk dengan PSIS Semarang. Kemudian beruntun menguatkan Gelora Dewata serta Persijap Jepara. Pada 2002 Yusuf kembali pada Surabaya jadi pemain sekaligus juga pelatih Suryanaga.

Sekarang Yusuf Ekodono masih aktif di atas lapangan hijau untuk pelatih PS Fajar di Surabaya. Tapi, kesibukan melatihnya tidak seperti dahulu sebab semenjak 2016 kerja untuk tenaga honorer di Dispora Surabaya.

Jacksen Tiago

Waktu Persebaya mendapatkan titel juara Liga Indonesia 1996-1997, team kebanggaan bonek ini ialah team superior. Club berjuluk Bajul Ijo itu susah dikalahkan sebab mempunyai materi pemain kelas top. Saat itu salah satunya pemain jagoannya ialah Jacksen F. Tiago, penyerang asal Brasil.

Nama Jacksen sebenarnya telah membumbung waktu musim bawa Petrokimia Gresik jadi runner-up Liga Indonesia 1994-1995. Tapi, pria murah senyum itu semakin berkibar waktu merealisasikan mimpi publik Surabaya jadi juara di pertandingan paling tinggi Tanah Air. Andil Jacksen buat Persebaya pada musim itu besar sekali. Kecuali mendapatkan titel juara, Jacksen dipilih untuk pemain paling baik.

Dua musim di Persebaya, Jacksen cari rintangan baru bersama-sama Geylang United di Singapura. Rasa kangen yang teramat besar dengan Persebaya membuat cuma bertahan satu musim di Singapura serta kembali pada Surabaya. Pada 2001, dia kembali lagi menguatkan Petrokimia serta putuskan pensiun di akhir musim itu. Karier pelatih dilaluinya setelah menggantung sepatu.

Jacksen menunjukkan sepak bola ialah habitat aslinya. Itu sebab semasa dua musim jadi pelatih Persebaya, Jacksen 2x juga bawa Persebaya berprestasi. Bila pada musim 2003 Jacksen bawa teamnya promo ke Seksi Penting, satu musim selanjutnya langsung jadi juara Liga Indonesia 2004. Komplet mendapatkan prestasi bersama-sama Persebaya, baik untuk pemain atau pelatih, membuat dianya ditantang menunjukkan dalam tempat lain.

Dia sempat jadi pelatih Persiter Ternate serta Persibom Bolaang Mongondow, sampai pada akhirnya sukses berat bersama-sama Persipura Jayapura. Dia dapat bawa Persipura juara ISL musim 2008-2009, 2010-2011, serta 2011-2012, serta 2013.

Prestasi itu membuat Rawon, panggilan akrabnya, dipercayai PSSI untuk mengatasi tim nasional senior. Tetapi, sebab pekerjaan pelatih tim nasional itu dirangkap dengan masih jadi pelatih Persipura, membuat konsentrasi Jacksen seperti terpecah. Dia pada akhirnya putuskan untuk stop dari bangku pelatih tim nasional serta konsentrasi ke club.

Sekarang pada musim 2020, Jacksen dengan status untuk komandan Persipura, club yang 3x dia bawa serta juara di panggung kelas paling tinggi musim 2008-2009, 2010-2011, serta 2013. Nakhoda asal Brasil itu akui punyai mimpi kembali lagi menggarap club yang membesarkannya.

Carlos de Mello

Dibanding legenda Persebaya Surabaya yang lain, solidaritas Carlos de Mello dengan team Bajul Ijo terhitung paling singkat. Faktanya selesai persembahkan titel juara buat Persebaya di Liga Indonesia 1996-1997, pemain tengah flamboyan asal Brasil itu angkat kaki untuk masuk dengan PSM Makassar.

Meskipun begitu daya ingat mengenai Carlos de Mello masih menancap kuat dalam pikiran bonek. Itu sebab totalitas serta dedikasinya semasa menguatkan Persebaya benar-benar keseluruhan. Kolaborasinya dengan Jacksen F. Tiago pada musim itu membuat Persebaya demikian ditakuti musuh.

Kualitas pemain yang mempunyai keunikan perut gembul ini tidak terpungkiri. Kecuali tindakan individunya yang menarik, Carlos mempunyai umpan tepat yang benar-benar menganakemaskan penyerang. Hasilnya baris depan Persebaya demikian tajam dengan bukti penyerang penting Jacksen produktif.

Sampai saat ini Carlos de Mello tetap jadi idola publik Surabaya. Dia masih dipandang seperti playmaker asing paling baik yang sempat bermain di Indonesia. Serta karena sangat cintanya pada Carlos, bonek seringkali memperbandingkan tindakan si legenda dengan pemain tengah asing yang lain yang keluar serta masuk menguatkan Persebaya.

Kedahsyatan Carlos untuk pemain terlihat jelas dengan dua titel juara pertandingan kelas paling tinggi bersama-sama Persebaya 1996-1997 serta PSM Makassar 1999-2000.Tapi, saat banting setir jadi pelatih selesai pensiun, keberuntungan Carlos berbeda dengan waktu jadi pemain. Dia cuma pernah jadi pelatih PSM Makassar, Putra Samarinda, serta Tim nasional Pelajar Indonesia.

Sugiantoro

Tidak terpungkiri lagi jika Sugiantoro salah satu legenda paling besar Persebaya. Aksinya bersama-sama Persebaya susah ditandingi beberapa penerusnya. Pemain yang dekat dipanggil Bejo ini tetap bermain sempurna saat aktif bermain di tempat libero atau stoper.

Dua titel juara dipersembahkannya buat Persebaya pada musim 1996-1997 serta 2004. Itu ialah bukti nyata kedahsyatan pemain murah senyum ini. Sebelum cemerlang jelas bersama-sama Persebaya, Sugiantoro sempat merasai tempaan dalam project mercusuar PSSI, yakni Tim nasional Primavera di Italia. Tapi, tidak seperti sebagian besar partnernya, Sugiantoro pilih pulang sebab tidak dapat meredam kangen pada keluarga.

Tetapi, demikian Sugiantoro masih jadi berlangganan tim nasional senior. Permainan polosnya membuat Sugiantoro tetap masuk dalam perincian pemain yang dipanggil tim nasional di beberapa tempat. Tetapi, Sugiantoro putuskan pensiun bertambah cepat dari tim nasional sebab menganggap bisa perlakuan tidak adil dari PSSI.

Insiden yang membuat sakit hati waktu menguatkan PSPS Pekanbaru diberi hukuman larangan bermain semasa satu tahun. Dia dituduh terjebak dalam pemukulan pada wasit Subandi dalam salah satunya laga PSPS. Kecuali menguatkan Persebaya serta PSPS, Sugiantoro sempat menguatkan club lain seperti PSMP Mojokerto serta Persida Sidoarjo. Di club Sidoarjo itu Sugiantoro putuskan pensiun.

Setelah jadi pemain, Sugiantoro pernah melalui profesi untuk pelatih di SSB Surabaya. Tapi, selanjutnya dia semakin pilih meningkatkan usaha pribadinya, yakni layanan container serta pergudangan. Sekarang ini Sugiantoro tertera untuk salah satunya tenaga honorer di Dispora Surabaya bersama-sama beberapa bekas pemain yang lain seperti Mat Halil, Endra Prasetya, Jatmiko, serta Yusuf Ekodono.

Narasi Kurniawan Dwi Yulianto di Persebaya, Beban Berat Sebelum Pertandingan Penentu Juara Liga Indonesia 2004

Jakarta – Kurniawan Dwi Yulianto masuk dalam perincian pemain yang sempat bawa dua club tidak sama mendapatkan piala juara Liga Indonesia. Dia pertama-tama melakukan saat bawa PSM Makassar jadi jawara pada musim 1999-2000. Ke-2, bersama-sama Persebaya Surabaya pada musim 2004 yang memutuskan skema pertandingan penuh.

Menurut Kurniawan Dwi Yuliuanto pada kanal youtube sportOne, walau saling memperoleh manajemen yang keseluruhan dalam layani team, proses serta rintangan untuk capai juara tidak sama, khususnya pada 2004. Ada tiga team yang saling berkesempatan mendapatkan juara.

Kecuali Persebaya, ada Persija Jakarta serta PSM Makassar.Walau dengan status tuan-rumah pada pertandingan paling akhir di Stadion Gelora 10 Nopember, 23 Desember, tidak gampang buat Bajul Ijo mencetak kemenangan. Musuh mereka ialah Persija yang materi pemainnya tidak kalah keren serta dengan status pimpinan klassemen sesaat.

Persija ada di pucuk dengan koleksi 60 point atau unggul dua angka atas Persebaya serta PSM. Berarti, kemenangan jadi harga mati buat Persebaya sambil mengharap PSM tidak menang besar atas PSMS Medan di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin.

Spesial dengan PSM, Persebaya diuntungkan oleh margin gol yang lebih bagus. Kurniawan memberikan tambahan satu hari sebelum laga, semua komponen team percaya dapat memenangi laga.

Pelatih Persebaya waktu itu, Jacksen Tiago, telah membuat strategi untuk merealisasikan sasaran kemenangan. Manajemen Persebaya yang dikontrol duet Haji Santo-Saleh Mukadar yang selama musim keseluruhan layani team terus berikan motivasi pemain.

Bonek, supporter militan Persebaya, siap berpesta menyongsong piala juara sesudah musim awalnya senang rayakan sukses club kebanggaan promo ke pertandingan kelas paling tinggi.

Tetapi, di hari laga, fokus pemain pernah buyar. Hujan yang deras menguyuur Kota Surabaya membuat lapangan di Stadion Gelora 10 Nopember digenangi serta membuat laga pernah terlambat hampir dua jam. Belum juga, pekikan beberapa puluh ribu supporter yang telah memadati terdengar jelas yang jaraknya memang tidak jauh dari mes pemain.

Strategi Harus Sesuai

Karena hujan juga, pemain sangat terpaksa naik bis serta masuk melalui pintu depan. Walau sebenarnya, awalnya, jika hadapi team besar, pemain cuma berjalan kaki dari mes serta masuk melalui pintu belakang.

Kondisi dan situasi lapangan yang beralih, automatis strategi harus sesuai. Jacksen Tiago minta Kurniawan supaya semakin agresif di baris pertahanan awan.

“Saya ditugaskan untuk orang pertama yang mengadang gempuran musuh. Saya juga harus semakin lama dalam menggenggam bola menanti baris ke-2 tiba untuk cetak gol,” tutur Kurniawan Dwi Yulianto.

Dari bagian tehnis telah ada jalan keluar. Tetapi, tetap ada kebimbangan dalam diri pemain sebelum pergi ke stadion.

“Terus jelas waktu itu saya serta pemain lain bimbang . Memikirkan situasi stadion, bagaimana jika menang ditambah lagi kalah. Tetapi, cocok waktu lakukan pemanasan, perlahan-lahan tetapi tentu beban cukup menyusut.”

Persebaya pada akhirnya mendapatkan piala juara sesudah menaklukkan Persija 2-1. 2 gol kemenangan Bajul Ijo diciptakan oleh Danilo Fernando serta Luciano da Silva. Gol Persija lahir karena bunuh diri Mat Halil. Sesaat di Makassar, PSM cuma dapat menang 2-1 atas PSMS. Persebaya serta PSM saling mengumpulkan 61 point atau unggul satu angka dari Persija.

Bela 11 Club Tidak sama di Indonesia

Kecuali PSM serta Pesebaya yang dibawa mendapatkan piala juara, Kurniawan tertera bermain pada sembilan club lain di pertandingan tanah air. Dia sempat bela club klub Malaysia, Sarawak FA pada 2005-2006.

Kurniawan punyai fakta tertentu kenapa tidak sempat tahan lama pada satu club, terkecuali Pelita Bakrie sebagai team pertama kalinya sepulang bermain di Eropa.

“Untuk pemain, saya pasti ingin memperoleh kontrak periode panjang. Cuma waktu kan, dana operasional bergantung pada APBD. Manajemen atau pengelolanya juga terkadang bertukar. Hingga rerata mereka cuma ingin mengontrak pemain cuma satu musim,” jelas Kurniawan.

Sebenarnya, kata Kurniawan, pemain semakin nyaman dengan kontrak periode panjang sebab ada kejelasan keberlangsungan profesi. Itu kenapa, dia menghargai perubahan club akhir-akhir ini. Ada beberapa club yang telah memberi kontrak periode panjang buat pemainnnya.

“Saya pikirkan langkah ini lebih bagus. Pemain semakin konsentrasi meningkatkan kekuatannya untuk mengangkat prestasi team,” jelas bekas penyerang FC Lucern (Swiss) ini.

Kurniawan tidak sepakat asumsi Indonesia kekurangan penyerang berbakat. “Sebetulnya kita punyai banyak penyerang yang bagus. Cuma permasalahannya ada pada pukul terbang. Pelatih semakin pilih penyerang asing sebab tuntutan kemenangan dari manajemen serta supporter. Jadi dilematis . Itu kenapa saya menghargai club yang berani mainkan penyerang lokal seperti Arema FC,” tandas Kurniawan.

Sumber: Youtube sportOne

Cerita Menarik PSS Mendapatkan Gaston Castano: Perintah Bupati Sleman serta Oleh-Oleh Blusukan ke Argentina

PSS Sleman sempat mempunyai Gaston Castano, penyerang asal Argentina yang dihadirkan langsung dari Argentina oleh team pelatih pada 2007 yang lalu. Narasi menarik menemani perjalanan team berjuluk Elang Jawa itu memperoleh bekas kekasih almarhum Julia Perez itu.

PSS Sleman tidak dapat dipandang sepele dalam perjalanannya melalui pertandingan kelas paling tinggi sepak bola Indonesia semenjak awal masa milenium. Team Elang Jawa dapat unjuk gigi serta jadi kuda hitam.

Termasuk juga prestasi 2x berturut-turut menempati rangking empat klassemen akhir walau dengan status team debutan. Aksi PSS yang cukup membuat musuh kuatir ialah peranan beberapa pemain asing yang sempat berkunjung. Β Β Β produktif, membuat dianya mendapatkan tempat di hati fans.

Bola.com terlibat perbincangan enjoy dengan figur Hendrikus Mulyono. Pria yang disebut manager PSS Sleman saat itu. Dia bersama-sama rombongan manajemen PSS turut terbang ke negara Diego Maradona, untuk memburu pemain termasuk juga Gaston Castano.

Beberapa pemain, termasuk juga Gaston Castano, serta satu pelatih jadi oleh-oleh PSS dari Argentina. Berikut narasi menarik PSS Sleman yang cari pemain sampai ke Amerika Latin, menurut pembicaraan Hendrikus Mulyono.

Perintah Bupati Sleman

3 orang wakil PSS Sleman berangkat ke Argentin untuk jalankan misi ini. Mereka ialah Hendrikus Mulyono (manager tim), Freddy Muli (pelatih), serta Bambang Nurjoko (team pelatih).

Rupanya misi itu bermula dari perintah seorang Ketua Umum PSSI Kabupaten Sleman, yang sekaligus juga Bupati Sleman, Ibnu Subiyanto. Pekerjaannya untuk cari pemain asing dengan cara langsung dari pengamatan di negaranya.

Tentu saja ialah cari pemain bermutu pada harga yang masih tetap termasuk miring. Tidak sama bila pemain tiba lewat agen yang harga dapat selangit.

“Pada saat itu PSS punyai anggaran yang minim serta terbatas, maklum team dari desa. Jauh dibanding Persija Jakarta yang punyai budget Rp20 miliar, Persebaya Rp23 miliar, serta Persipura sampai Rp30 miliar. Sesaat PSS cuma punyai Rp4 miliar,” jelas Hendrikus Mulyono saat interviu, Rabu (10/6/2020).

“Kami bisa pekerjaan dari Pak Bupati untuk cari pemain asing yang murah tetapi bagus. Dengan anggaran optimal 400 juta per musim, sesuai dengan kekuatan keuangan PSS. Pada saat itu masih diperkenankan memakai APBD,” tuturnya.

Dua Minggu Memburu Pemain

Rombongan manajemen PSS ada di Argentina semasa dua minggu. Mereka bertiga tinggal di dalam rumah dubes Indonesia untuk Argentina saat itu.

Hendrikus menceritakan berkunjung ke banyak wilayah yang menjadi pendapatan pemain sepak bola Argentina. Termasuk juga dua team yang penuh persaingan, Bocah Juniors serta River Plate.

3 hari sekali mereka mengawasi calon pemain yang akan diambil, dengan melihat laga dengan cara langsung di atas lapangan.

Sampai pada akhirnya memperoleh pemain Gaston Castano, Juan Dario Gagalla, dua pemain lagi, serta seorang pelatih yaitu Horacio Montes untuk dibawa pulang ke Indonesia.

“Lihat tim-tim di Argentina, seperti Boca Juniors serta River Plate untuk cari pemain, mungkin anggaran kami dapat. Kami berkeliling-keliling sampai mendapatkan Gaston Gastano, Juan Dario Gagalla, serta pelatih Horacio Montes,” katanya.

“Pada akhirnya bisa dengan bayar pemain murah per bulan seputar 18 juta untuk Gaston, kan benar-benar ngirit. Pulang bisa empat pemain plus satu pelatih. Sebab jika berbelanja pemain asing yang telah dapat dibuktikan di Indonesia harga mahal, ya tidak dapat,” lanjut Hendrikus.

Bingung Tetapkan Pilihan

Tidak gampang cari pemain prospek walau langsung dari Argentina. Khususnya pada harga yang relatif dapat dijangkau serta dapat menyesuaikan secara baik di sepak bola Indonesia.

Menurut dia, Argentina sangat banyak pemain sepak bola berpotensi sebab membagi negara kuat di olahraga ini. Sudah diketahui Argentina benar-benar akrab dalam melahirkan pemain sepak bola legendaris seperti Diego Maradona, Mario Kempes, Gabriel Batistuta, sampai Hernan Crespo.

Atau masa terbaru dengan beberapa nama terkenal seperti Lionel Messi, Angel Di Maria, Mauro Icardi, Paulo Dybala, dan Lautaro martinez. Disadari Hendrikus, pernah dibikin bingung dengan adanya banyak pemain sepak bola bermutu di negara Argentina.

“Pasti bingung sebab semua bagus, ditambah lagi di Argentina langsung serta yang bagus memang mahal sekali harga. Karena itu kami mengambil dari kelas ke-2 serta ke-3. Yang putuskan kami bertiga, mengawasinya dalam dua 3x laga,” katanya.

“Ada banyak fundamen alasan sebelum pilih. Pertama sebab umur yang muda, selanjutnya tehnik bermain, solidaritas atau attitude-nya. Pasti dengan tanya-tanya sana-sini, dibantu coach Carlos Cambon (bekas pelatih Persija),” candanya.

Moncer di Sleman

Usaha utusan PSS sampai terbang ke Argentina tidak percuma. Pemain yang dibawa langsung dari negeri Tango, dapat menunjukkan diri di Sleman. Terutamanya buat Gaston Castano serta Juan Dario Gagalla.

Dengan cara kualitas, Hendrikus Mulyono mengaku sebetulnya Gagalla lebih bagus dari Gaston. Cuma, nasibnya kurang untung di PSS. Gagalla kontraknya tidak diperpanjang oleh PSS, demikian perihal pelatih Horacio Montes yang disetop serta digantik Rudy Keltjes.

Sesaat karunia buat Gaston Castano, yang profesinya terus melesat di PSS. Dia jadi sandaran penting buat baris depan PSS. Walau cuma satu musim, Gaston dapat melepaskan 10 gol dari keseluruhan 30 performanya.

Bekas kekasih Julia Perez ini diketahui ahli dalam menyelesaikan sepakan bebas. Gaston mulai jadi pemain besar sesudah pergi dari PSS, masuk dengan team seperti PSIS, Persiba Balikpapan, PSMS Medan, serta Pelita Bandung Raya.

“Waktu itu PSS memang perlu penyerang. Gaston dengan cara fisik penuhi ketentuan, masih terbilang muda, pekerja keras, serta dapat dinaikkan mutunya. Performnya terus naik, penyesuaian mereka demikian cepat. Termasuk juga lancar berbahasa Indonesia dalam tempo dua bulan,” tutur Hendrikus Mulyono.

“PSS sukses cari pemain asing, kuncinya ya memang seharusnya detil serta selektif. Tidak bergantung dengan agen, sebab bisa club kecurian. Bilangnya bagus, tetapi jika tidak selektif ya sia-sia,” tuturnya tutup percakapan.

Masalah Lanjutan Pertandingan, Arema Setia pada Keputusan PSSI

Manajemen Arema FC mulai bicara masalah lanjutan nasib pertandingan Shopee Liga 1 musim 2020. Club dengan logo singa mengepal ini akui akan setia apa saja ketetapan asosiasi.

“Arema memperjelas akan setia apa saja ketetapan PSSI,” kata General Manajer Arema FC, Ruddy Widodo.

“Apa pertandingan diteruskan atau disetop, Arema pastikan akan masih setia serta taat,” tambahnya.

Menurut Ruddy, PSSI tentu punyai alasan masak dalam putuskan nasib pertandingan. Karena itu, Arema akan ikuti apa saja yang sudah ditetapkan oleh asosiasi sepak bola Indonesia itu.

“PSSI kan yang punyai pertandingan. Kami tentunya akan manut dengan ketetapan mereka,” papar Ruddy.

“Mereka juga memutuskan berdasarkan ketetapan pemerintah lewat BNPB,” dia memberikan tambahan.

Awalnya, ada saran jika pertandingan Shopee Liga 1 musim 2020 akan diteruskan. Saran ini ada di pertemuan di antara tim-tim peserta Liga 1 musim 2020 dengan PSSI, Rabu (27/05). Salah satunya club yang menyarankan supaya pertandingan diteruskan ialah Arema.

Marak diberitakan, bila digelontorkan lagi, pertandingan akan memulai digelar lagi pada medio Juli akan datang. Ini, sesuai tingkatan new normal dari pemerintah.

Baca artikel sedetailnya berikut ini ya!

Arema Berpatokan New Normal

Disamping itu, Ruddy Widodo menyebutkan jika ada beberapa fakta dibalik sikap teamnya, yang memberikan dukungan pertandingan berguling lagi. Menurut dia, ini tidak terlepas dari kebijaksanaan pemerintah mengaplikasikan pola hidup ‘kelaziman baru’ (new normal) untuk mengatasi efek epidemi Corona.

“Menurut saya, prosedur kelaziman baru (new normal) adalah pilihan paling baik yang dapat diambil untuk hadapi epidemi sekarang ini,” kata Ruddy.

Ruddy menyebutkan, seperti industri-industri lain, sepak bola juga terkait erat dengan bagian lain. Bila industri sepak bola stop, faktor lain juga terpengaruh.

“Seperti kita melihat sekarang ini seberapa banyak UMKM yang perlu stop terpengaruh pertandingan yang mandek. Disamping itu, banyak pula beberapa sektor yang terpengaruh,” papar Ruddy.

“Perihal ini pula sebagai pertimbangan kita untuk pilih meneruskan pertandingan, walau awalnya kami pilih supaya pertandingan mandek,” pungkas manager berumur 48 tahun ini.

Pemain tengah PSIS Kangenin Laga, Ini Kesibukannya Semasa Pertandingan Disetop

Pemain tengah asing PSIS Semarang, Jonathan Cantillana akui kangen dengan situasi laga. Mengingat, lebih dari pada dua bulan pertandingan disetop karena epidemi Covid-19.

Pemain berpaspor Palestina itu rindukan solidaritas dengan rekanan segrupnya. Karena, mereka melalui semua bersama-sama.

“Semua dikangenin, waktu berlatih, menyiapkan laga. Sepak bola tetap mendatangkan kangen,” tuturnya pada Bola.net.

Ditambah lagi, sepak bola tidak sama dengan karier yang lain. Jalinan antar pemain yang satu serta lainnya demikian kuat, sebab mereka dituntut selalu untuk solid serta kompak.

Scroll ke bawah untuk info sedetailnya ya!

Berlatih Keras

Serta untuk isi waktu semasa pertandingan disetop, Jonathan masih berlatih untuk pastikan keadaannya bagus. Kecuali bergabung dengan keluarga.

“Saya berlatih selama minggu serta sehari dalam satu minggu saya berlatih benar-benar keras seakan-akan mensimulasikan permainan,” jelas Jonathan.

“Saya stop berlatih serta istirahat sehari selanjutnya kembali lagi berlatih. Saya coba bawa perintah yang sama dengan awalnya,” ujarnya.

Sesaat, semasa pertandingan disetop, Jonathan masih bertahan di Semarang bersama-sama keluarganya. Ia akan menanti sampai asosiasi putuskan nasib pertandingan.