Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara – Jose Mourinho merasakan kemenangan pertamanya dalam derby London Utara ketika Tottenham Hotspur bangkit dari ketinggalan untuk mengalahkan Arsenal. Mereka bermain di Stadion Tottenham Hotspur London dalam lanjutan laga Premier League yang ke-35. Sundulan Toby Alderweireld hanya 9 menit sebelum laga berakhir mengklaim tiga poin penting bagi Spurs untuk peluang bersaing memperebutkan salah satu jatah Liga Eropa.

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Hotspur Vs Arsenal 3 Gol Penuh Drama dari Derby London Utara

Mourinho tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika usai laga tersebut berkata seperti dilansir. Kami membuat para penggemar senang, kami bahagia karena kami masih dalam perjuangan untuk memenangkan posisi Liga Eropa. Hasil ini juga membuat Manajer adal Portugal itu tidak pernah kalah dalam pertandingan kandang melawan Arsenal selama karirnya di Liga Inggris.

Dari 10 laga yang pernah dijalani, Mourinho memenangkan laga enam kali dan seri empat kali. Tottenham sendiri sudah memenangkan 4 laga dan dua laga berakhir imbang. Tidak terkalahkan dalam enam pertandingan liga di kandang mereka secara berturut-turut melawan Arsenal.

Kemenangan ini juga untuk pertama kalinya sejak Januari 1968 dengan meraih sembilan pertandingan tidak kalah mekawan Arsenal. Sementara itu Mikel Arteta adalah manajer Arsenal pertama yang kehilangan derby London Utara pertamanya di Liga Premier sejak Bruce Rioch pada November 1995.

Kemenangan itu mengangkat Spurs menggeser Arsenal di klasemen Premier League pada posisi ke-8 dengan 52 poin. Arsenal turun ke posisi sembilan dengan 50 poin, terpaut dua poin dari rival mereka dengan tiga pertandingan tersisa. Mikel Arteta mengakui kekalahan Arsenal 1-2 dari Tottenham merupakan pukulan besar bagi The Gunners karena mereka hanya tinggal menyisakan 3 laga sisa.

Salah satu laga dari tiga yang harus dijalani Arsenal adalah melawan Liverpool yang dianggap laga terberat yang harus dijalani. Alexandre Lacazette telah memberikan Arsenal memimpin pada awal laga hanya 16 menit sejak kick off dengan mencetak gol untuk keunggulan 1-0. Tetapi sebuah blunder pemain belakang The Gunners, Sead Kolasinac yang memberikan back pass terlalu lemah kepada David Luiz, berhasil direbut Heung-Min Son.

Pemain Korea Selatan ini dengan mudah menembakan bola ke gawang Arsenal yang dikawal Martinez. Pierre-Emerick Aubameyang hampir saja mengguncang gawang Spurs untuk keunggulan Arsenal. Auba membuka peluang untuk mengembalikan keunggulan mereka sebelum akirnya Alderweireld menjadi penentu kemenangan.

Spurs menemukan cara ketika Mourinho memperpanjang rekor tak terkalahkan di Premier League melawan The Gunners menjadi 10 pertandingan. Kekalahan Arsenal ini membuat klub dengan julukan Gunners berada di urutan kesembilan dengan tiga pertandingan tersisa.

Terpaut empat poin dari Sheffield United yang berada di urutan ketujuh di tempat kualifikasi terakhir Eropa. Mereka masih bisa bersaing meraih target 6 besar. Arteta mengakui dengan jujur bahwa dia melihat apa yang dilakukan Mourinho berhasil memangkan derby ini lagi.

Menurut Arteta, ini dua gaya yang sangat berbeda. Mourinho mengelola taktik dengan sangat baik dengan memiliki tim yang bagus di lini belakangnya. Karakter sepakbolanya selalu menemukan cara untuk memenangkan sebuah laga. Tiga laga sisa Arsenal adalah melawan Liverpool (16 Juli), lawan Aston Villa (22 Juli) dan lawan Watford (26 Juli).

Sedangkan jadwal Tottenham yaitu lawan Newcastle United (16 Juli), lawan Leicester (19/7/20) dan lawan Crystal Palace (26 Juli). Mereka menghadapi lawan kuat yaitu Arsenal berhadapan dengan Liverpool dan Tottenham menghadapi Leicester. Pada 3 laga sisa tersebut, Jose Mourinho dan Tottenham Hotspur serta Mikel Arteta dan Arsenal harus tetap berjuang meraih posisi di zona Liga Eropa.

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang – Tak terasa perjalanan Liga Italia Serie A telah memasuki waktu-waktu krusial di penghujung musim. Ketatnya persaingan begitu terasa hingga pekan ke 31 menuju ke 32. Terlihat bahwa tim-tim peringkat 9 hingga 5 begitu ngotot memperebutkan tiket ke Europa League musim depan dan juga tim di zona degradasi yang perlahan bangkit keluar ke titik aman.

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Lazio Kembali Tumbang Duel Juventus Atalanta Berakhir Imbang

Persaingan di empat besar pun sebenarnya juga masih terpantau baik meskipun tak semenarik tim-tim dibawahnya dan diprediksi tidak akan berubah komposisi timnya mulai dari Juventus, Lazio, Atalanta, dan Inter. Bisa dibilang Tiket Liga Championss sudah 60% tersegel oleh keempat nya mengingat rentang jarak tim peringkat 5 dan 4 yang berbeda 11 poin per pagi tadi.

Walhasil persaingan di empat besar lebih dikhususkan untuk merebut gelar juara liga yang hampir se-dasawarsa dikuasai oleh Si Nyonya Tua. Dan dilanjutan pekan ke 32 Serie A yang digelar kemarin malam dan dinihari tadi waktu Indonesia, Lazio, Atalanta, dan Juventus kembali mentas dengan kekuatan terbaiknya.

Di Stadion Olimpico Kota Roma, Tim ibukota besutan Simone Inzaghi ditantang oleh Sassuolo yang ada di peringkat 8 dan masih sangat berpeluang untuk menembus Zona Eropa. Ciro Immobile dan Luis Alberto dimainkan di laga ini, bahkan nama terakhir mencetak gol pembuka untuk keunggulan Lazio.

Namun di babak kedua, Sassuolo bangkit dan mencetak dua gol yang membalikkan keadaan oleh Raspadori dan Caputo di menit akhir pertandingan. Hasil ini menjadi kekalahan ketiga beruntun I Biancocelesti dan memperlebar jarak dengan si nyonya tua menjadi 7 poin. Hal yang cukup disayangkan sebenarnya mengingat sebelum pandemi Lazio digadang-gadang menjadi penantang terkuat Juventus dalam perburuan gelar ketika performa Inter yang kala itu naik turun.

Berselang beberapa jam kemudian, laga seru antara sang Capolista, Juventus menghadapi Tim peringkat tiga, Atalanta pun dihelat di Turin. Alih-alih mencetak gol cepat untuk memastikan jarak aman dengan Lazio, tim tuan rumah justru ketinggalan lebih dulu lewat sontekan Duvan Zapata menerima assist dari Papu Gomez.

Di babak pertama permainan bola memang lebih didominasi Atalanta sedangkan Juventus mencoba bemain lebih efektif. Di babak kedua, Juventus mulai lebih banyak menggencarkan serangan dan mencoba membuka pertahanan ketat atalanta lewat umpan silang dan tendangan spekulatif.

Usaha Juventus akhirnya berhasil dengan ditunjuknya penalti oleh wasit atas handsball Marten De Roon. Eksekusi Cr7 pun tak mampu dihadang Kiper Atalanta. Di menit ke 80, Atalanta kembali unggul lewat screamer ruslan malinovskiy yang merobek jala sczcesny untuk kali kedua.

Selepas momen tersebut, Juventus berusaha untuk bisa menyamakan kedudukan dan harapan Atalanta untuk menang 10 kali beruntun pun buyar seketika tatkala dengan pola yang sama si nyonya tua berhasil mendapatan penalti yang kedua, kali ini giliran Luis Muriel yang kedapatan handsball.

Ronaldo pun tak menyiakan kesempatan eksekusi di titik 12 pas. Hingga akhir laga skor berakhir 2-2. Dengan hasil ini Juventus tetap nyaman di singgasana dengan keunggulan 8 poin dari Lazio, sedangkan Atalanta gagal menyalip Lazio di peringakat kedua.

Di lain sisi Inter yang baru bermain pekan depan menghadapi Torino, masih berpeluang menyalip Atalanta jika memenangkan laga di Meazza selasa dinihari waktu Indonesia.

Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Juventus akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya – Kompetisi Serie A sempat terhenti selama kurang lebih tiga bulan akibat mengganasnya pandemi Covid-19 di Italia. Negeri pizza itu memang merupakan salah satu negara Eropa yang paling terdampak oieh pandemi Covid-19. Tercatat lebih dari 30 ribu orang di Italia meninggal akibat virus Corona (Covid-19). Sebelum kompetisi Serie A dihentikan sementara akibat adanya pandemi Covid-19 itu, pertandingan yang telah diselesaikan antara 25-26 partai. Artinya kompetisi Serie A menyisakan 12-13 partai lagi.

Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Setelah pandemi Covid-19 mereda dan situasi memasuki era new normal, kompetisi Serie A bergulir kembali mulai tanggal 22 Juni 2020. Tentu saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya setiap pertandingan tidak boleh dihadiri oleh penonton. Sampai saat ini selama era new normal, Serie A telah menyelesaikan 5-6 partai sisa. Tim-tim besar seperti Juventus, Lazio, Atalanta, dan Inter Milan masih leading di papan atas klasemen.

Bahkan bagi Atalanta, lanjutan kompetisi Serie A dalam era new normal ini mungkin merupakan berkah tersendiri. Hal itu dikarenakan dalam enam pertandingan yang telah dimainkan, Atalanta meraih kemenangan seratus persen. Artinya dalam setiap laga Atalanta selalu menang.

Hebatnya lagi, beberapa tim yang dikalahkan oleh Atalanta adalah tim penghuni papan atas klasemen. Lazio yang berada di posisi dua klasemen di bawah Juventus dihajar Atalanta dengan skor 3-2. Korban berikutnya Napoli, disikat Atalanta dengan dua gol tanpa balas.

Tim lain yang dikalahkan oleh Atalanta adalah Sassuolo di partai perdana pasca pandemi Covid-19 pada tanggal 22 Juni 2020 dengan skor telak 4-1. Kemudian Udinese dengan skor 3-2, Cagliari dengan skor 1-0, dan terakhir Sampdoria dengan skor 2-0. Pertandingan selanjutnya akan sangat seru dan menarik. Mengingat Atalanta akan berhadapan dengan pemuncak klasemen sementara Si Nyonya Tua Juventus pada tanggal 12 Juli mendatang.

Atau sebaliknya Atalanta akan menelan kekalahan pertama pada sisa kompetisi pasca pandemi Covid-19 ? Big match yang sangat menarik untuk disaksikan. Secara head to head dengan Juventus di Serie A, Atalanta memang masih kalah jauh dari Juventus. Tercatat dari 109 kali bentrok dengan Juventus, Atalanta hanya menang 11 kali dan kalah 63, selebihnya seri.

Apakah Juventus Akan Menjadi Korban Atalanta Berikutnya

Dalam lima pertemuan terakhir dengan Juventus pun, Atalanta masih berada di bawah Juventus. Atalanta hanya satu kali menang, dua kali seri, dan dua kali kalah. Akan tetapi Atalanta saat ini sedang berada dalam kepercayaan diri tinggi. Apalagi kalau bukan rekor kemenangan seratus persen dalam laga yang telah dimainkan di era new normal. Terlebih lagi, Atalanta tidak pernah kalah dalam sepuluh pertandingan terakhir di Serie A. Hanya satu kali seri dan sisanya semua dimenangkan Atalanta.

Sementara Juventus sebaliknya. Mental Juventus sedang agak down. Pasalnya, dalam pertandingan terakhir tanggal 8 Juli lalu Juventus dikalahkan AC Milan dengan skor cukup telak , 2-4. Walau pun begitu, tentu saja Si Nyonya Tua tak akan mudah untuk dikalahkan. Juventus akan melakukan perlawanan sengit terhadap Atalanta. Sebab kalau sampai kalah dari Atalanta, Juventus berpotensi kehilangan posisi pemuncak klasemen sementara sebab Lazio yang berada di posisi kedua siap mengkudeta.

Bagi Atalanta, meraih kemenangan dari Juventus merupakan hal yang sangat penting. Selain untuk menjaga trend positif kemenangan seratus persen, juga demi memelihara posisi di zona Liga Champions. Di samping itu pula, mengalahkan Juventus akan menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Atalanta.

Secara statistik gol, dari enam pertandingan terakhir yang telah dimainkan di Era New Normal, Atalanta telah mencetak sebanyak 15 (lima belas) gol dan hanya kemasukan 5 (lima) gol saja. Tak berbeda dengan Atalanta, Juventus pun sama dengan Atalanta telah mencetak sebanyak 15 (lima belas) gol tetapi kemasukan lebih banyak gol, yakni 6 (enam) gol.

Statistik Gol Antara Atalanta Dan Juventus Terlihat Cukup Berimbang

Perbedaannya hanyalah dalam jumlah pertandingan yang telah dimainkan dan jumlah kemenangan. Atalanta telah memainkan enam pertandingan, sedangkan Juventus baru memainkan lima pertandingan. Kemudian Atalanta selalu menang tak pernah kalah, sedangkan Juventus pernah mengalami satu kekalahan dalam pertandingan terakhir kala berhadapan dengan AC Milan.

Kedua tim berpeluang untuk saling mengalahkan. Bisa jadi Atalanta yang menang, tapi mungkin juga Juventus yang menang. Akan tetapi jika melihat statistik gol dan pertandingan, hasil seri mungkin cukup adil bagi kedua tim.

Performa Atalanta tahun ini memang cukup luar biasa. Selain tetap berada di posisi zona Liga Champions dalam klasemen sementara dan menorehkan kemenangan seratus persen dalam enam pertandingan Serie A pasca pandemi Covid-19, Atalanta juga mencatatkan diri menjadi satu-satunya tim dari Italia yang berhasil melaju ke Babak perempat final Liga Champions.

Selain Atalanta memang masih ada tim Italia lain, Juventus yang masih bertahan di 16 besar. Hanya saja kans Juventus untuk melaju ke babak perempat final tidak terlalu besar, mengingat pada leg pertama Juventus kalah 0-1 dari Lyon. Berarti jika ingin mendapatkan tiket ke babak perempat final seperti Atalanta, Juventus harus bisa mengalahkan Lyon pada tanggal 8 Agustus nanti (leg kedua tunda karena pandemi Covid-19) paling tidak dua gol tanpa balas.

Bukan tidak mungkin jika Atalanta bisa melangkah lebih jauh lagi di Liga Champions. Tidak hanya sampai perempat final, tapi juga semi final, final, bahkan tidak mustahil menjadi juara Liga Champions.

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal – Penikmat sepak bola nasional yang berbasis di Bandung dan Jawa Barat sempat dibuat bangga dua kali berturut-turut kala Liga Indonesia (Ligina) yang merupakan wajah baru dari kompetisi perserikatan digulirkan. Pada Ligina edisi pertama tahun 1994/95, Persib Bandung berhasil meraih gelar juara. Berselang setahun, giliran Peri Sandria cs yang membawa trofi Ligina edisi ke-II mendarat di Bandung bersama klub yang dibelanya, Mastrans Bandung Raya (MBR).

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Pesta Pora Publik Bandung di Ligina Edisi Awal

Bagi Persib, gelar juara Ligina I 1994/95 bukanlah yang pertama. Mereka punya beberapa koleksi trofi Liga yang tersimpan di lemarinya yakni tahun 1937, 1959-1961, 1986, 1989-1990, dan 1993-1994. Pada musim 1994, kompetisi di Indonesia kemudian digabung antara Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia.

Sistemnya pun ikut berubah, termasuk pada musim itu jadi awal pintu masuk bagi para legiun asing. Namun menariknya, trofi Ligina I sukses digondol Maung Bandung tanpa legiun asing. Bukan karena manajemen Persib tak memfasilitasi atau melarang perekrutan pemain asing, melainkan karena kepercayaan sang pelatih, Indra Tohir, kepada putra daerah yang membuat Persib kemudian berjaya bersama produk lokalnya.

Pelatih yang akrab disapa Abah Tohir itu mengklaim bila timnya tak membutuhkan pemain asing mengingat betapa melimpahnya talenta lokal yang mereka miliki. Bahkan hal itu telah mereka manfaatkan di musim-musim sebelumnya. Persib sejak 1993 tinggal maintanance saja. Karena kualitas tekniknya masih mumpuni dan terjaga sejak 1982 tidak putus gunakan talenta lokal terbaik. Secara fisik pun mereka masih mampu bersaing dua musim ke depan. Itu kenapa saya tidak memakai servis pemain asing,” demikian kata Abah Tohir. Seperti dinukil dari Skor Indonesia.

Bah Tohir juga melihat keuntungan dari segi finansial bagi klubnya jika dirinya tidak mengambil opsi perekrutan pemain asing. Sebab para legiun asing sendiri sistem pemberian upahnya berbeda dengan pemain lokal. “Pemain asing kan harus dikontrak dan digaji. Sementara pemain lokal tidak dikontrak dan digaji. Mereka hanya dapat uang pertandingan,” tegas dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu pemain Persib 1994/95, Yadi Mulyadi, ketika banyak klub mendatangkan legiun asing Grade A seperti Roger Milla yang merupakan pemain jebolan Piala Dunia atau Dejan Gluscevic yang pernah membela Timnas Kroasia level junior, para pemain Persib musim itu justru termotivasi untuk membuktikan bahwa kualitas pemain lokal pun tak kalah dari mereka.

Di Liga Indonesia pertama, kami tanpa pemain asing. Itu jadi motivasi terbesar kami untuk membuktikan, pemain lokal juga bisa memberikan prestasi,” pekik Yadi. Seperti dinukil dari SuperBall. Bagi mantan Persib yang kini mengasuh Persib U-20 itu, skuad Persib era Perserikatan 1993/94 yang juga meraih trofi juara tak bisa ditampik mempunyai dampak besar bagi Persib dalam mencatatkan sejarah fenomenal tersebut.

Memang antara perserikatan dan Liga [Ligina] pertama punya sistem berbeda. Tetapi label juara Perserikatan juga modal dan kami tidak melakukan perubahan. Jadi pemain sudah saling mengetahui kemauan masing-masing, pungkasnya. Meskipun keluar sebagai yang terbaik. Bukan berarti Persib tanpa batu sandungan jelang mengangkat piala di Senayan pada 30 Juli 1995 itu. Pada laga perdana misalnya, mereka takluk dari Pelita Jaya Jakarta 0-1.

Sejak saat itu, Persib mulai berbenah. Hasilnya terlihat saat Yusuf Bachtiar cs merebut tiket 8 besar. Bersama Pelita Jaya, Bandung Raya, dan Medan Jaya, Persib mewakili tim terbaik di wilayah barat. Sementara tim-tim yang lolos di wilayah timur adalah Petrokimia Putra Gresik, Pupuk Kaltim Bontang, Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), dan Barito Putra.

Dari delapan finalis itu pula Persib menjadi satu-satunya delegasi dari klub eks Perserikatan. Pada babak 8 besar Persib tergabung di Grup B bersama Medan Jaya (peringkat keempat wilayah barat), Petrokimia Gresik (juara wilayah timur), dan ASGS (peringkat ketiga wilayah timur).

Anwar Sanusi cs lolos dengan status jawara grup B sedangkan Barito Putra sebagai runner-up grup A telah menanti di semifinal, 28 Juli 1995. Pada pertandingan yang berlangsung alot itu, para penggawa Persib sempat dibuat frustasi oleh sulitnya menjebol gawang Barito yang dijaga oleh Abdillah.
Konon, pemain Persib sempat terheran-heran dengan kejadian aneh tersebut. Beberapa pemain yang gagal mencetak gol sempat melakukan hal seperti menggoyang-goyang jaring gawang sampai membuang ludah di dalam gawang lawan.

Hal klenik terendus oleh Sutiono Lamso pada pertengahan babak kedua, Ia menemukan sebutir telur tergeletak di dekat gawang yang dijaga oleh kiper yang berkepala pelontos itu. Menyikapi hal itu, Sutiono langsung memecahkan telur tersebut. Abdillah yang melihat aksi itu sempat geram.

Tak berlangsung lama setelah Sutiono memecahkan telur, Persib berhasil mencetak gol lewat Kekey Zakaria di menit ke-80. Gol pemain asal Subang itu menjadi gol tunggal yang membekali Persib ke Stadion Utama Senayan, Jakarta, untuk melakoni partai final. Petrokimia Gresik yang pada laga semifinal lain berhasil membekuk Pupuk Kaltim dengan skor yang sama, 1-0, melalui gol Widodo Cahyono Putro, jadi lawan Persib di Senayan.

Anwar Sanusi, Mulyana, Robby Darwis, Yadi Mulyadi, Dede Iskandar, Nandang Kurnaedi, Yudi Guntara, Asep Kustiana, Yusuf Bachtiar, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso merupakan 11 pertama Persib yang bertarung di final. Dengan skuad itu pula, Persib berhasil menyudahi perlawanan sengit Petrokimia lewat gol Sutiono Lamso di menit ke-76.

Bagi Sutiono, gol tunggalnya di partai final Ligina I 1994/95 ini melengkapi 21 golnya yang Ia cetak musim itu. Meski begitu, tak ada satu pun pemain Persib yang berhasil meraih titel individu musim itu. Gelar pencetak gol terbanyak diraih oleh Peri Sandria dengan 34 gol bersama Bandung Raya sementara Widodo Cahyono Putro dinobatkan sebagai pemain terbaik musim itu.

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit – Saat Juventus unggul dua gol atas AC Milan, saya pikir pertandingan sudah selesai. Tapi, kejutan terjadi karena Milan yang bermain di kandang sendiri membalikkan keadaan dan memgalahkan Juventus 4-2, di ajang Liga Italia, Rabu (8/7/2020) dinihari WIB. Juventus unggul dua gol melalui Adrien Rabiot menit 47 dan Cristiano Ronaldo di menit 53. Namun, Milan mampu bangkit. Dalam lima menit Milan mampu membalikkan keadaan. Pada menit 62, Zlatan Ibrahimovic menjebol gawang Juventus melalui tendangan penalti.

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit

Mengejutkan Milan Bunuh Juventus dalam 5 Menit

Di menit 66, Franck Kessie mencetak gol kedua bagi Milan setelah menerima umpan Zlatan Ibrahimovic. Di menit 67, Rafael Leao mencetak gol ketiga AC Milan. Kedudukan pun menjadi 3-2 untuk tuan rumah. Di menit 80 Ante Rebic mencetak gol keempat bagi AC Milan.

Kemenangan ini membuat Milan ada di posisi lima klasemen sementara Liga Italia dengan 49 poin dari 31 laga. Milan unggul satu poin dari AS Roma dan Napoli yang ada di posisi enam dan tujuh klasemen sementara Liga Italia. Hanya saja, AS Roma dan Napoli baru bermain 30 kali.

Sementara, Juventus masih di puncak klasemen sementara Liga Italia. Juventus memiliki 75 poin dari 31 laga. Namun, kekalahan itu membuat Juventus tak bisa memperlebar jarak dengan Lazio. Lazio di posisi dua klasemen sementara Liga Italia dengan 68 poin dari 31 laga.

Dengan tujuh laga tersisa, Juventus hanya membutuhkan 15 poin untuk jadi juara Liga Italia. Namun, kebutuhan 15 poin itu bisa berkurang jika di tujuh laga sisa, Lazio tersandung di beberapa laga alias tak bisa menyapu semua laga dengan kemenangan.

Sementara, bintang kemenangan AC Milan atas Juventus, Zlatan Ibrahimovic mengungkapkan pandangannya. Dia mengatakan bahwa usia hanyalah angka. Sementara kualitas adalah yang utama. Seperti diberitakan football-italia.net mengutip DAZN, Ibra mengaku bahwa di laga melawan Juventus itu, dirinya merasa bermain lebih baik. Seperti diketahui, Ibra mencetak satu gol dan satu assist di laga melawan Juventus itu. Saat ini Ibra memang tak muda lagi. Pemain asal Swedia tersebut kini sudah berusia 38 tahun.

Sementara, pelatih Juventus Maurizio Sarri seperti diberitakan football-italia.net mengutip DAZN mengatakan bahwa anak asuhnya sudah bermain sangat bagus di 60 menit pertama. Dia mengatakan, anak asuhnya bermain dengan kelas dunia. Eks pelatih Napoli itu mengatakan bahwa di 60 menit pertama anak asuhnya bisa mengendalikan permainan. Imbasnya di 60 menit pertama, Juventus sudah unggul dua gol tanpa balas.

Namun, Sarri juga mengaku heran mengapa setelah menit 60, anak asuhnya bermain buruk sekali. Bahkan secara khusus dia menilai di 15 menit akhir, Juventus kocar-kacir. Imbasnya, Milan mampu menjebol gawang Juventus empat kali.

Dia mengatakan, bahwa laga melawan AC Milan itu akan dipelajari untuk perbaikan di laga selanjutnya. Baginya, banyak pelajaran yang bisa dipetik ketika kalah dari Milan.

Nation’s Pride yang Berujung Malapetaka

Nation’s Pride yang Berujung Malapetaka – 8 Juli 2014, pendukung Brazil yang memadati Estadio Mineirao di kota Belo Horizonte sudah menyiapkan semua yang diperlukan untuk menanti duel akbar kontra Jerman di babak semifinal. Segelas bir dingin, segenggam hot dog panas, dan jersey khas warna kuning jadi starterpack wajib warga Brazil yang saat itu datang ke stadion. Tak satupun yang punya feeling bahwa yang akan mereka saksikan nanti adalah pembantaian, bahkan yang tersadis sepanjang pagelaran Piala Dunia, terhadap negara mereka sendiri.

Nation’s Pride yang Berujung Malapetaka

Belo Horizonte bergemuruh kala pemain Brazil berjalan memasuki lapangan, beriringan dengan sang musuh. Tak ada yang janggal pada malam itu, kecuali starting eleven yang dipasang Luiz Felipe Scolari. Dante mengisi pos Thiago Silva, yang kena akumulasi kartu. Neymar yang cedera ditukar dengan Bernard. Lalu tiba-tiba Maicon jadi starter gantikan Dani Alves. Semua tampak aman terkendali, setidaknya sampai menit ke-11. Selanjutnya, adalah pertunjukan horor bagi publik tuan rumah.

Toni Kroos menendang sepak pojok pertama Jerman di pertandingan itu. Thomas Mueller, entah bagaimana, berdiri sangat bebas di tiang jauh tanpa pengawalan. Saking leluasanya, dia bahkan menyambut umpan Kroos dengan tendangan menyusur tanah. Gol. 1-0 Jerman. Seluruh pemain Brazil terperanjat melihat gol itu. Alarm bahaya sudah berbunyi, namun mereka terlalu lambat menyadarinya.

Sejak terciptanya gol perdana Jerman, mental punggawa Brazil langsung runtuh. Mereka tak lagi tenang saat membawa bola. Berkali-kali mereka melakukan salah passing. Serangan yang mereka bangun dari bawah selalu mentah di lapangan tengah. Publik tuan rumah mulai khawatir malam itu akan jadi malam penyiksaan yang begitu panjang bagi mereka. Mereka mungkin sedikit menyesali keputusan mereka untuk menonton langsung di stadion.

Gol kedua pun menyusul. Menit 23, Thomas Mueller sendirian mengacak-acak barisan pertahanan Brazil yang kelimpungan. Awalnya, Julio Cesar mampu menahan tendangan pertama dari Mueller, namun Miroslav Klose sudah siap menyambar bola rebound di bibir gawang. Ini gol ke-16 Klose di Piala Dunia, sekaligus mengantarnya ke puncak all time top scorer melewati rekor Ronaldo Nazario.

David Luiz, yang malam itu menjadi kapten, tak mampu menggantikan peran Thiago Silva sebagai komandan di lini pertahanan. Duetnya dengan Dante mungkin akan dikenang sebagai penampilan terburuknya selama membela panji Tim Samba. Empat bek yang tampil malam itu benar-benar lupa bagaimana cara bertahan.

Gawang Brazil kemudian kebobolan tiga gol lagi. Kroos mencetak brace di menit ke-24 dan 26. Sami Khedira menambah luka di menit ke-29. Para bek Brazil seakan diajak main kucing-kucingan oleh para penyerang Jerman. Mereka begitu mudah dipermainkan dengan umpan-umpan pendek di depan kotak pinalti. Skor 0-5 untuk Jerman menghiasi papan skor. Belo Horizonte jadi kota terkutuk malam itu.

Sang lawan memberondong lima gol ke gawang Brazil di paruh pertama. Estadio Mineirao kemudian mulai basah akibat gerimis yang turun dari langit dan air mata yang jatuh dari publik Brazil. Tawa canda yang ada seketika berubah jadi agonia. Tak ada lagi harapan untuk kembali. Brazil telah kalah sebelum permainan berakhir. Joachim Loew telah mengisntruksikan anak buahnya untuk mengendurkan permainan di babak kedua. Ia merasa aman sekaligus kasihan. Tiket final sudah di tangan, jadi tak perlu lagi menghabisi Brazil dengan lebih kejam lagi.

Namun sayang, Andre Schuerlle pergi ke toilet saat itu, sehingga ia mencetak dua gol di babak kedua. Gol Oscar di menit akhir seakan tidak ada artinya lagi untuk Brazil. Angka yang terpampang memang begitu mengiris. Jerman keluar sebagai pemenang dengan skor 1-7, mengubur impian Brazil untuk berlaga di partai pamungkas di depan penggemar mereka sendiri.

Impian untuk mengangkat trofi juara di rumah sendiri harus pupus. Seantero Brazil berduka atas kekalahan yang menyesakkan itu. Anak-anak yang tadinya melihat David Luiz dkk layaknya pahlawan kini menatap mereka laksana pecundang. Tapi di lain pihak, lawan-lawan mereka tertawa dalam hati. Mereka bahagia karena akhirnya orang Brazil menuai apa yang telah mereka tabur.

Contoh nyata adalah saat Brazil mengandaskan Kolombia. Satu yang diingat dalam pertandingan itu adalah tendangan bebas jarak jauh David Luiz yang menghujam deras ke sudut kanan atas gawang Ospina. Media Brazil meledek Kolombia dengan headline: “Luiz antar Kolombia ke luar angkasa”. Semua orang Brazil begitu yakin jika gelar Piala Dunia keenam sudah berada dalam genggaman mereka.

Sengaja atau tidak, rasa kepedan ini nyatanya juga menular ke tim sepakbolanya. Mereka lantas menemui kendala saat dua pemain penting mereka, Neymar dan Thiago Silva, harus absen di semifinal kontra Jerman. Dani Alves yang sebelumnya jadi starter tiba-tiba digantikan oleh Maicon. Tak ada yang tahu taktik apa yang dipilih Scolari di pertandingan itu. Mereka sama sekali tidak merasa waspada dengan kehancuran yang bisa dibawa Jerman.

Brazil tetap memainkan permainan ofensif yang tidak diimbangi dengan kestabilan di lini belakang. Marcelo selalu ketinggalan dalam transisi menyerang ke bertahan. Celah inilah yang dimaksimalkan betul oleh Jerman.

Pada akhirnya, mereka semua tersungkur malu setelah “dipermak” Die Mannschaft dengan skor yang amat telak. Semua pemain Brazil tergeletak di lapangan setelah wasit meniup peluit akhir pertandingan. Beberapa di antara mereka sampai tak kuasa menahan rasa sakit dan malu atas kekalahan itu. Namun pada akhirnya, mereka mempelajari sesuatu yang sangat berharga malam itu.

Nation’s pride yang mereka punya selama pagelaran Piala Dunia akhirnya harus lenyap berkat kejadian malam itu di Belo Horizonte. Mereka semua akhirnya menyadari, bahwa rasa percaya diri yang terlalu tinggi malah menyebabkan kehancuran bagi diri mereka sendiri.

Saat mereka menggembar-gemborkan kekuatan, di situlah rasa waspada jadi berkurang. Akhirnya, kekuatan itu berubah menjadi kelengahan yang tak termaafkan. Pertandingan itu dijuluki dengan sebutan Mineirazo, yang berarti tamparan Mineirao.

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah – PSSI memang makin lucu, sekaligus memprihatinkan. Saat dipimpin oleh Edy Rahmayadi, yang lebih memilih jadi Gubernur Sumatra Utara meski belum lama jadi Ketua Umum PSSI, ia banyak dicemooh karena komentarnya. Seperti “pelatih itu coach” misalnya. Sekarang penggantinya juga tak mau kalah. Kali ini soal alasan pembatalan Stadion Mandala Krida, Yogyakarta sebagai salah satu venue untuk even sarat gengsi, Piala Dunia U20.

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah

PSSI Takut Meletus Masa Merapi Harus Dipindah

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan bahwa alasan dicoretnya Stadion Mandala Krida karena ketakutan akan meletusnya Gunung Merapi. Sedangkan untuk Stadion Pakansari, Bogor yang juga sebelumnya disebut sebagai salah satu venue adalah karena kalah fasilitas disbanding Jakabaring dan Jalak Harupat. Merapi yang berjarak 29,2 km dari Stadion Mandala Krida menjadi salah satu andalan pariwisata Yogyakarta. Aktivitas Merapi sebagai gunung api yang berstatus aktif wajar saja, dan tidak mengganggu masyarakat. Erupsi terakhir terjadi pada 28 Maret 2020 lalu.

Maka tak salah jika Gubernur Di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X tersenyum setengah geli ketika ditanya wartawan soal gunung Merapi yang jadi alasan dibatalkannya Stadion Mandala Krida sebagai venue Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.

Kalangan pelaku dunia dunia pariwisata DIY pun menilai alasan PSSI itu cukup lucu. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Deddy Pranowo menyebut alasan yang disampaikan PSSI soal pembatalan Yogyakarta jadi venue Piala Dunia cukup lucu.

PSSI memang telah mengumumkan 6 stadion sebagai bakal venue Piala Dunia U-20. Stadion Mandala Krida yang sebelumnya masuk dalam daftar 10 venue tercoret. Ke 6 stadion tersebut adalah Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) — Jakarta, Stadion Gelora Sriwijaya — Palembang, Stadion Si Jalak Harupat – Kabupaten Bandung, Stadion Manahan — Solo, Stadion Gelora Bung Tomo — Surabaya dan Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar – Bali

Soal Mandala Krida kami sudah melihat, ini beberapa kali FIFA menanyakan tentang erupsi atau vulkanik atau gunung merapi,” kata Mochamad Iriawan, dalam jumpa pers di Kantor Kemenpora,3 Juli 2020. Nah itu yang menjadi catatan dari FIFA, kita tidak bisa menahan kapan gunung itu tidak menyemburkan laharnya kan, jadi itu pertimbangannya,” tambahnya.

Keputusan PSSI itu tentu saja mengecewakan masyarakat Yogyakarta yang sudah senang dengan ditunjuknya Mandala Krida sebagai salah satu venue Piala Dunia 2020 yang akan berlangsung pada tanggal 20 Mei-12 Juni 2021 mendatang.

Alasan PSSI mencoret Stadion Mandala Krida memang patut dipertanyakan. PSSI sudah meninjau stadion itu, mengakui fasilitas yang ada cukup bagus dan mendekati standar FIFA. Hanya beberapa yang perlu dibenahi seperti perlunya dibuat single seat, lalu tudung tribun VIP, jacuzzi atau tempat berendam setelah pemain berlaga, juga sejumlah kamar mandi yang harus direnovasi.

Stadion Mandala Krida yang dibangun pada tahun 1976 dan memiliki kapasitas 35 ribu penonton itu juga sudah direnovasi pada 2019. Lokasinya strategis sebagai venue Piala Dunia U-20 2021, berada di pusat kota. Bukan di pinggiran seperti stadion besar umumnya. Ini membuat Mandala Krida menjadi lokasi pas karena jaraknya cukup dekat dengan sejumlah sarana seperti hotel-hotel dan stadion pendukung.

Bisa dipertanyakan, jika erupsi gunung Merapi yang jadi alasan PSSI, ketakutan akan letusan, jelas terasa mengada-ada. Apakah di Bali misalnya bisa dijamin Gunung Agung tidak beraktivitas, erupsi?. Apakah epidemi Corvid-19 sudah mereda atau benar-benar lenyap pada gelaran even paling bergengsi tersebut? Ini mengingat Surabaya yang saat ini tercatat sebagai provinsi dengan kasus tertinggi di Indonesia.

Maka langkah PSSI dengan gegabah menetapkan 6 stadion tersebut, yang masih menanti persetujuan dari FIFA, bisa dipertanyakan. Jangan nanti jadi bahan tertawaan. Ucapan Sultan Hamengku Buwono X juga menjadi sindiran bagi PSSI, saat ia mengatakan bahwa Merapi memang beraktivitas dan tidak bisa pindah. Lha arep mindah Merapi piye nek alesane Merapi, ya kan? (Lha bagaimana mau memindahkan Merapi kalau alasan pencoretan dari FIFA karena aktivitas Merapi),” kata Sultan.

Entah apa alasan dari PSSI jika nanti ternyata Mandala Krida yang dipilih oleh FIFA. Apakah akan mengatakan “Merapi ternyata tidak menakutkan.

Mengenal Kai Havertz Lebih Dekat, Sang Playmaker Masa Depan Jerman

Bundesliga dikenal sebagai liga yang dipenuhi pemain-pemain muda berbakat. Bolaneters bisa menemukan pesepakbola muda dengan bakat-bakat luar biasa hampir di seluruh 18 kontestan Bundesliga.

Salah satu bakat muda yang bersinar terang di Bundesliga dalam beberapa tahun terakhir adalah Kai Havertz. Pemuda berusia 21 tahun itu dikenal oleh para pecinta sepakbola berkat permainannya bersama Bayer Leverkusen.

Mengawali karirnya di usia yang sangat muda, Havertz berhasil menjelma menjadi salah satu bintang yang paling bersinar di skuat Die Werkself. Ia disebut-sebut akan menjadi playmaker masa depan Timnas Jerman.

Kecemerlangan sang playmaker ini juga membuat banyak klub tertarik mendapatkannya. Bolaneters bisa melihat sehari-hari bagaimana sejumlah raksasa Eropa berebut untuk mendapatkan tanda tangannya.

Lantas siapa sih Kai Havertz dan mengapa ia bisa begitu bersinar di skuat Bayer Leverkusen? Kami mengajak Bolaneters sekalian untuk mengenal lebih dalam bintang masa depan Jerman ini.

Putra Daerah Aachen

Lahir 11 Juni 1999 di Aachen, pada mulanya ia bermain untuk SV Alemannia Mariadorf tahun 2003 hingga 2009, untuk Alemannia Aachen tahun 2009 sampai 2010 dan sejak saat itu hingga sekarang loyal bersama Bayer 04 Leverkusen.

Kai merupakan putra dari seorang ayah yang berprofesi sebagai polisi dan ibu yang merupakan pengacara sukses di Jerman ini telah memainkan 113 pertandingan selama kariernya di Bundesliga. Dari jumlah tersebut, ia telah memenangi 54 laga.

Havertz memainkan semua pertandingan profesionalnya di Bundesliga sebagai bagian dari Die Werkself. Bersama mereka, Havertz telah memasukkan total 34 bola ke gawang lawan. Pada tahun 2016, ia dianugerahi medali perak U-17 Fritz Walter Medal – serangkaian penghargaan tahunan yang diberikan oleh Asosiasi Sepak Bola Jerman untuk para pemain muda berbakat- sebelum membobol masuk tim senior Leverkusen di musim berikutnya.

Debut tim senior Havertz untuk Leverkusen terjadi pada 15 Oktober 2016 saat melawan Werder Bremen, menjadikannya pemain termuda dalam sejarah klub di divisi utama sepak bola Jerman pada usia 17 tahun dan 126 hari.

Ia mengklaim rekor lain sebelum musim 2016/2017 berakhir ketika gol pertamanya saat berhadapan dengan Wolfsburg berhasil menempatkannya sebagai pencetak gol termuda Leverkusen di Bundesliga pada usia 17 tahun.


Statistik Ciamik Musim Ini

Saudara kandung dari Leah (saudara perempuan) dan Jan (saudara laki-laki) itu telah mencetak 10 gol hingga matchday ke-28 Bundesliga kali ini. Hal tersebut menjadikannya pencetak gol terbanyak di timnya sekarang.

Dengan lima assist, ia menempati posisi ketiga penyedia assist terbanyak di timnya bersama Moussa Diaby dan Kerem Demirbay. Dengan total 45 tembakan, Kai Havertz juga adalah pemain ketiga terbanyak yang melepaskan tembakan tepat sasaran ke gawang lawan, yang empat di antaranya membentur tiang gawang.

Dengan catatan tersebut, ia berada di posisi teratas Bundesliga berbagi tempat dengan Serge Gnabry dari Bayern Muenchen. Dengan 52 umpan berbuah tembakan, gelandang setinggi 189 sentimeter itu saat ini menempati posisi ke-10 dalam statistik Bundesliga bersama Philipp Max dari FC Augsburg.

Kai Havertz memantapkan namanya untuk selalu berada di starting line-up pada 25 pertandingan sebelumnya musim ini. Dari jumlah tersebut, 15 di antaranya ia menangkan bersama dengan klubnya.

Pemain dengan nomor punggung 29 itu juga adalah salah satu pelari terkuat di Bundesliga. Jumlah total sprint yang ia lakukan musim ini adalah 718 – menempatkannya di peringkat sembilan dari seluruh pemain yang berkompetisi.

Tancap Gas

Di paruh pertama musim 2019/20, mesin Havertz masih belum panas dengan hanya mengemas dua gol dan satu assist. Namun, memasuki tahun 2020, ia langsung tancap gas. Pada pertandingan pertama Rueckrunde saja, ia langsung mengemas satu gol dan satu assist saat mengalahkan SC Paderborn.

Hingga matchday ke-28 lalu, ia sudah mengantongi 8 gol dan 4 assist di paruh kedua musim. Havertz bahkan mulai dipercaya oleh Peter Bosz untuk memimpin rekan setimnya sebagai kapten di lima kesempatan dalam enam pertandingan terakhir.

Gaya Bermain

Havertz adalah mesin penggerak di lini tengah, ia mampu bermain di mana saja di lini tengah tetapi secara alami adalah seorang playmaker yang beroperasi di belakang striker utama. Deskripsi itu sangat cocok dengan bintang Gunners saat ini, Mesut Ozil yang kerap dibandingkan dengan Havertz.

Tidak hanya bersinar di klub, ia juga bersinar di TImnas Jerman. Hingga kini, Kai Havertz telah menciptakan satu gol dari tujuh pertandingan internasional bersama timnas Jerman yang telah ia mainkan.

(Bundesliga)

3 Calon Alternatif Diego Godin di Inter Milan

Inter Milan merencanakan meningkatkan amunisi di bursa transfer musim panas akan datang. Nerazzurri tengah cari bek tengah baru untuk dibawa ke Giuseppe Meazza.

Hal itu dilaksanakan Inter untuk mengantisipasi kepergian Diego Godin. Pemain dari Uruguay itu diisukan akan tinggalkan club di akhir musim.

Godin dipandang tidak berhasil cemerlang bersama-sama Nerazzurri sesudah dihadirkan dari Atletico Madrid pada musim panas. Bek berumur 34 tahun itu kesusahan untuk menyesuaikan dengan skema 3-5-2 ala Antonio Conte.

Selama ini ada dua club Premier League yang siap memuat Godin dari Inter. Mereka ialah Manchester United serta Tottenham.

Beberapa nama telah masuk dalam perincian sasaran Inter untuk gantikan Godin. Tuttosport menyebutkan ada tiga bek tengah sebagai sasaran Inter.

Jan Vertonghen

Vertonghen sekarang ini dengan status untuk pemain Tottenham. Tetapi, pemain dari Belgia itu dapat didapat dengan gratis pada musim panas.

Kontrak bek berumur 33 tahun itu dengan Spurs akan habis di akhir musim. Tetapi, Vertoghen kelihatannya tidak meneken kontrak baru di Premier League itu.

Vertoghen adalah pemain yang penuh pengalaman di level paling tinggi. Hal itu yang diperlukan Antonio Conte untuk menguatkan baris belakangnya.

Marash Kumbulla

Kumbulla masuk dengan Hellas Verona di tahun 2017. Pemain berumur 20 tahun itu tampil reguler untuk timnya pada musim ini.

Bek asal Albania ini mencatat 19 performa di semua pertandingan dengan cetak 1 gol. Performa persisten Kumbulla di Serie A membuat banyak team tertarik membawanya.

Kumbulla sendiri masih masih terjalin kontrak di Stadio Marc’Antonio Bentegodi sampai akhir musim 2021/22. Kecuali Inter, Kumbulla disukai Napoli serta Juventus.

Armando Izzo

Izzo menguatkan Torino semenjak tahun 2018 kemarin. Bek asal Italia itu mencatat 29 performa di semua pertandingan musim ini.

Pada umur 28 tahun, Izzo mempunyai pengalaman yang lumayan banyak khususnya di Serie A. Tetapi, Izzo tentu saja masih juga dalam waktu keemasanya.

Inter benar-benar tertarik datangkan Izzo pada musim panas. Berdasar laporan, Inter siap menyerahkan Roberto Gagliardini untuk memperoleh si pemain.

Sumber: Tuttosport

Akan Ditinggal Lautaro, Inter Milan Belum Tetapkan Waktu Depan Alexis Sanchez

Inter Milan cukup repot dengan rencana transfer beberapa minggu paling akhir. Nerazzurri sedang bernegosiasi dengan Barcelona tentang transfer Lautaro Martinez, penyerang muda asal Argentina yang mulai bertumbuh jadi pemain teratas.

Beritanya Inter mulai siap melepas Lautaro, pasti dengan ketentuan Barca ingin penuhi beberapa ketentuan mereka. Pasukan Antonio Conte itu ingin melepas Lautaro pada harga setinggi kemungkinan serta memakai uangnya untuk datangkan pemain lain.

Lepas dari hari esok Lautaro, Inter masih tetap memperhitungkan banyak hal. Diantaranya tentang hari esok Alexis Sanchez, yang sekarang ini dengan status utang dari Manchester United.

Apakah yang akan dilaksanakan Inter pada Sanchez? Baca sedetailnya berikut ini ya

Belum Tunjukkan Dihttps://domains.google.com/m/registrar/?authuser=2&_ga=2.126651149.142425178.1588315147-1978800087.1588315147ri

Waktu utang di Inter semestinya jadi peluang Sanchez untuk menunjukkan diri. Ia tidak berhasil keseluruhan di MU serta ingin memberi yang paling baik di Inter.

Nahasnya, Sanchez tidak betul-betul dapat menunjukkan diri. Ia kembali lagi menanggung derita luka panjang serta waktu bugar sedikit memperoleh peluang bermain.

Sanchez cuma dapat cetak 1 gol dalam 15 performa selama ini. Jelas angkat itu benar-benar minim serta belum cukup memberikan keyakinan Inter untuk membeli dengan cara permanen.

Antonio Conte memang tertarik dengan kekuatan Sanchez, tetapi tidak ada fungsinya pelihara pemain yang rawan luka serta cuma jadi beban.

Belum Ditetapkan

Walau begitu, ditengah-tengah keadaan susah itu, Piero Ausilio sebagai direktur olahraga Inter Milan memperjelas jika faksi club belum memutuskan apa saja. Memang waktu utang Sanchez akan usai diakhir musim, tetapi Inter belum membuat ketetapan.

“Ia [Sanchez] akan bertahan bersama-sama kami sampai akhir musim, sesudahnya baru kami akan tentukan waktu depannya bersama-sama Man United. Ia akan memperoleh peluang untuk menunjukkan ketrampilannya,” tutur Ausilio pada Sky Sport Italia.

Selanjutnya, Ausilio juga memperjelas jika ketetapan tentang hari esok Sanchez bergantung pada kebijaksanaan Antonio Conte. Inter cuma ingin mempunyai pemain yang sesuai persyaratan Conte.

“Kami sudah membuat tim kembali lagi bersama-sama pelatih hebat seperti Conte serta kami masih bermain di tiga pertandingan. Bersama-sama Conte, kami tetap pilih pemain yang pas untuk club,” pungkasnya.

Sumber: Sky Sports